Riset Ungkap 88 Persen UMKM Pakai Duit Pribadi Buat Modal Ketimbang Pinjem Bank
Riset Ungkap 88 Persen UMKM Pakai Duit Pribadi Buat Modal Ketimbang Pinjem Bank Riset Ungkap 88 Persen UMKM Pakai - Pengaruh Tren Ini pada Pertumbuhan Ekonomi
Riset Ungkap 88 Persen UMKM Pakai Duit Pribadi Buat Modal Ketimbang Pinjem Bank
Riset Ungkap 88 Persen UMKM Pakai –
Pengaruh Tren Ini pada Pertumbuhan Ekonomi
Riset Ungkap 88 Persen UMKM Pakai Duit Pribadi Buat Modal – Dalam sebuah riset yang dirilis oleh Perbanas, terungkap bahwa sekitar 88 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) informal di Indonesia lebih memilih menggunakan dana pribadi sebagai modal, dibandingkan mengajukan pinjaman dari lembaga keuangan. Tren ini memberikan gambaran tentang ketergantungan UMKM pada sumber dana internal dan dampaknya terhadap dinamika pasar keuangan nasional.
“Berdasarkan survei, kebanyakan UMKM lebih menyukai dana sendiri,” kata Aviliani, Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbanas, di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
Mengapa UMKM Lebih Memilih Dana Pribadi?
Menurut Aviliani, angka 88 persen ini mencerminkan preferensi UMKM dalam mengelola keuangan. “Banyak pelaku usaha merasa bahwa dana pribadi lebih mudah diakses dan bisa digunakan secara fleksibel,” jelasnya. Dalam konteks ini, kebutuhan modal yang bersifat sementara atau kecil sering kali terpenuhi melalui uang pribadi, sementara pinjaman bank masih dianggap sebagai pilihan yang lebih rumit dan memakan waktu. Selain itu, ketersediaan bantuan keuangan dari pemerintah atau lembaga non-bank juga belum cukup digunakan.
“Pembiayaan eksternal sebesar 12 persen, sedangkan dana pribadi mencapai 88 persen,” ujarnya.
Perbandingan UMKM Formal dan Informal
Tren ini tidak hanya terjadi pada UMKM informal, tetapi juga berlaku untuk pelaku usaha formal. Aviliani menambahkan bahwa sekitar 62 persen UMKM formal tetap mengandalkan dana pribadi. “Meski penawaran dana dari perbankan dan non-bank sudah cukup baik, permintaan dari UMKM masih terbatas,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor usaha kecil tetap menghadapi tantangan dalam memperoleh dukungan keuangan eksternal, terutama di tengah persaingan yang ketat dan fluktuasi ekonomi.
Implementasi Program Bantuan Pemerintah
Dalam mencoba memperkuat akses pembiayaan, pemerintah telah mengambil langkah-langkah tertentu. Aviliani menyoroti bahwa program bantuan keuangan seperti subsidi atau kredit usaha rakyat (KUR) sudah diperkenalkan, tetapi belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan UMKM. “Kurangnya pemahaman tentang mekanisme pinjaman dan proses administratif yang rumit menjadi hambatan utama,” terangnya. Masih banyak pelaku usaha yang enggan mengajukan pinjaman karena ketakutan akan bunga tinggi atau risiko gagal bayar.
Riset Ungkap 88 Persen UMKM dan Strategi Peningkatan Kinerja
Sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja UMKM, Perbanas meluncurkan UMKM Center. Platform ini bertujuan membantu pelaku usaha naik kelas melalui empat aspek utama: memperkuat kapasitas usaha, memperluas akses pembiayaan, memperluas pasar, serta mempercepat digitalisasi bisnis. “Kita perlu memberikan edukasi lebih baik tentang manfaat pinjaman eksternal dan cara mengelolanya secara efisien,” tegas Aviliani. Ia berharap program ini bisa menjadi solusi dalam mengatasi masalah akses dana yang sering dihadapi oleh UMKM.
Analisis Ekonomi dan Dampak Jangka Panjang
Riset Ungkap 88 Persen UMKM juga menyebutkan bahwa ketergantungan pada dana pribadi memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan. UMKM yang mengandalkan modal sendiri cenderung membatasi ekspansi bisnis karena dana yang tersedia tidak cukup untuk investasi besar. “Jika UMKM bisa memperoleh pinjaman yang lebih mudah, mereka akan lebih cepat berkembang dan berkontribusi pada perekonomian,” jelas Aviliani. Ia menambahkan bahwa ekosistem pendanaan yang sehat sangat penting untuk mendukung pertumbuhan sektor UMKM secara berkelanjutan.