Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Metro

Key Issue: Anggota DPRD DKI Kenneth Sebut Flyover Latumenten Bisa Kurangi Macet 40 Persen

Lisa Moore - faktanaya.com 3 mins baca

enten Bisa Kurangi Macet 40 Persen Key Issue – Proyek pembangunan flyover Latumenten di Grogol Petamburan, Jakarta Barat, menjadi perhatian publik seiring

Key Issue: Anggota DPRD DKI Kenneth Sebut Flyover Latumenten Bisa Kurangi Macet 40 Persen

Key Issue: Flyover Latumenten Bisa Kurangi Macet 40 Persen

Key Issue – Proyek pembangunan flyover Latumenten di Grogol Petamburan, Jakarta Barat, menjadi perhatian publik seiring harapan mengurangi kemacetan hingga 40 persen. Proyek ini diperkirakan selesai pada Desember 2026, menurut anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, yang menyebutnya sebagai Key Issue utama dalam upaya memperbaiki sistem transportasi kota.

Permintaan Warga Jadi Bahan Pemikiran

Menurut Kenneth, warga sekitar wilayah perlintasan kereta api menjadi penggerak utama untuk mendesain proyek ini. “Keresahan masyarakat terhadap kemacetan di sekitar perlintasan kereta api memicu diskusi yang menyebut flyover Latumenten sebagai Key Issue krusial,” jelasnya saat mengikuti kunjungan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung ke lokasi proyek, Kamis, 2 Juli 2026.

Pembangunan flyover ini berdampak signifikan pada alur lalu lintas, khususnya di sepanjang Jalan Latumenten. Dengan mengakali perlintasan kereta api yang sering menyebabkan penumpukan kendaraan, proyek ini diharapkan menjadi solusi Key Issue yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. Sebagai anggota DPRD DKI, Kenneth mengungkapkan bahwa usulan ini dianggap sebagai langkah strategis dalam mempercepat proses pembangunan infrastruktur.

Proses Perencanaan dan Keterlibatan Pemprov DKI

Sebelum memasuki tahap lelang, proyek flyover Latumenten melalui studi kelayakan yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta. Kenneth menjelaskan bahwa usulan pembangunan berasal dari kunjungan kerja selama masa reses pada 2024, di mana warga meminta penyelesaian masalah Key Issue kemacetan.

“Selama masa reses, saya mendapat banyak masukan dari warga. Mereka mengusulkan flyover sebagai solusi utama untuk mengatasi Key Issue kemacetan di sekitar perlintasan kereta api,” ujarnya. Awalnya, Pemprov DKI mengalami kesulitan mendapatkan dana untuk proyek ini, tetapi setelah melalui evaluasi, proyek akhirnya diusulkan ke pemerintah pusat dan dipercepat realisasinya.

Fasilitas Ramah Disabilitas dan Keterlibatan Masyarakat

Sebagai bagian dari konsep integrasi transportasi, flyover Latumenten dirancang lengkap dengan fasilitas ramah disabilitas. Kenneth menekankan bahwa skywalk yang dibangun akan dilengkapi lift, JPO yang mudah diakses, dan halte Transjakarta yang terhubung langsung dengan jalan umum. “Ini adalah Key Issue penting karena memastikan kenyamanan semua pengguna jalan, termasuk penyandang disabilitas,” tambahnya.

Adanya fasilitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan aksesibilitas dan keselamatan pengguna jalan kaki, terutama di sekitar Flyover Latumenten. Kenneth juga menyebutkan bahwa pihatanya berharap proyek ini tidak hanya mencegah Key Issue kemacetan, tetapi juga menjadi contoh keberhasilan integrasi antarmoda transportasi di kota besar.

Menurut rencana, proyek ini akan diintegrasikan dengan jalur KRL Commuter Line dan sistem transportasi umum lainnya, sehingga mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi. “Kami ingin Key Issue ini menjadi solusi jangka panjang, bukan sekadar proyek sementara,” jelas Kenneth dalam wawancara dengan media lokal.

Harapan dan Tantangan di Jalan

Kenneth optimis bahwa proyek ini akan memberikan dampak besar terhadap kondisi lalu lintas DKI Jakarta. “Jika berjalan sesuai rencana, flyover Latumenten bisa mengurangi kemacetan hingga 40 persen, seperti yang kami sampaikan sebelumnya,” katanya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa ada tantangan dalam pengelolaan dana dan keterlibatan masyarakat.

Meski progres konstruksi sudah mencapai tahap awal, Kenneth menyatakan bahwa proyek ini membutuhkan koordinasi lebih lanjut antara berbagai pihak, termasuk warga sekitar. “Kami berharap warga tetap aktif mengawasi proses ini agar Key Issue yang muncul tidak terabaikan,” tambahnya.

Ikut berdiskusi