Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Bisnis

Main Agenda: OJK Sebut Kaburnya Modal Asing Rp 19,63 Triliun Bikin IHSG Anjlok 7,9 Persen di Juni 2026

Christopher Hernandez - faktanaya.com 3 mins baca

Rp 19,63 Triliun Bikin IHSG Anjlok 7,9% di Juni 2026 Main Agenda - Perkembangan pasar modal Indonesia dalam bulan Juni 2026 mengalami tekanan signifikan

Main Agenda: OJK Sebut Kaburnya Modal Asing Rp 19,63 Triliun Bikin IHSG Anjlok 7,9 Persen di Juni 2026

OJK: Main Agenda Kaburnya Modal Asing Rp 19,63 Triliun Bikin IHSG Anjlok 7,9% di Juni 2026

Main Agenda – Perkembangan pasar modal Indonesia dalam bulan Juni 2026 mengalami tekanan signifikan akibat aliran modal asing yang mengalir keluar. Dalam Main Agenda yang disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Hasan Fawzi menyebutkan bahwa IHSG tercatat turun 7,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya, atau Juni 2026, yang mengisyaratkan kondisi pasar yang sedang melemah. Angka ini memperjelas bahwa kekhawatiran global terhadap ekonomi dan politik memengaruhi keputusan investor asing untuk menarik dana mereka dari pasar modal dalam negeri.

Analisis Faktor Penyebab Aliran Modal Asing

Dalam Main Agenda OJK, Hasan Fawzi menjelaskan bahwa aliran modal asing yang mengalir keluar pada Juni 2026 mencapai Rp19,63 triliun, atau lebih dikenal sebagai aksi jual bersih. Penurunan ini terjadi akibat kombinasi dari ketidakpastian global, seperti fluktuasi pasar keuangan internasional, serta persepsi negatif investor terhadap kebijakan ekonomi dalam negeri. Selain itu, penyesuaian strategi portofolio investor juga menjadi faktor utama, terutama dalam upaya mencari keuntungan di pasar lain yang lebih stabil.

Hasan menegaskan bahwa kondisi IHSG yang terpuruk pada Juni 2026 mencerminkan kecemasan investor asing terhadap risiko pasar domestik. Pada periode tersebut, IHSG ditutup di level 5.643,19, atau turun 34,74 persen secara year-to-date (ytd) sepanjang tahun 2026. “Main Agenda dalam laporan ini menyebutkan bahwa turunnya IHSG tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh pola perilaku investor dalam menyesuaikan eksposur mereka terhadap risiko yang lebih tinggi,” kata Hasan.

Kondisi Pasar Obligasi dan Transaksi Harian

Dalam situasi yang sama, pasar obligasi juga mengalami pergerakan, dengan Indeks Indonesia Composite Bond (ICBI) turun 1,69 persen secara month-to-month (mtm) ke level 429,85. Meskipun demikian, investor asing tetap menunjukkan minat positif terhadap pasar modal, terlihat dari reksadana yang menarik dana sebesar Rp22,43 triliun (mtm). Hal ini menunjukkan bahwa Main Agenda OJK menjadi acuan utama bagi investor dalam mengambil keputusan investasi.

Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) pada Juni 2026 mencapai Rp22,23 triliun, yang sedikit lebih rendah dibandingkan Mei 2026 (Rp22,86 triliun). Akan tetapi, jumlah investor di pasar modal meningkat secara signifikan, dengan tambahan 1,21 juta investor pada bulan tersebut, sehingga total investor mencapai 28,96 juta. “Main Agenda ini memberikan gambaran bahwa meski terjadi tekanan, pasar modal Indonesia masih mampu menarik minat investor baru,” ujar Hasan.

Dalam Main Agenda, Hasan Fawzi juga menyoroti bahwa Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana turun 4,79 persen (mtm) atau 3,32 persen (ytd) menjadi Rp652,9 triliun. Angka ini mencerminkan adanya net redemption sebesar Rp23,75 triliun (mtm) dan Rp2,14 triliun (ytd), yang menunjukkan bahwa aliran dana dari investor asing berdampak pada kepercayaan pasar terhadap produk investasi lokal. Namun, di sisi lain, ada juga keberhasilan dalam mempertahankan minat investor asing di sektor obligasi.

Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya dan Proyeksi Ke Depan

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, IHSG Juni 2026 tercatat mengalami penurunan yang lebih dalam. Hal ini menunjukkan bahwa Main Agenda OJK dalam beberapa bulan terakhir menjadi indikator utama dalam menilai kestabilan pasar. Hasan menambahkan bahwa tekanan pada bulan ini juga disebabkan oleh kebijakan moneter global, seperti kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, yang memengaruhi aksi jual investor asing.

Dalam rangka memperkuat kepercayaan investor, OJK berupaya menjaga kestabilan pasar modal melalui berbagai langkah regulasi. Main Agenda dalam laporan tersebut juga mencakup proyeksi bahwa kondisi IHSG dalam beberapa bulan ke depan akan dipengaruhi oleh tingkat volatilitas dan kebijakan ekonomi nasional. Hasan menegaskan bahwa aliran modal asing yang mengalir keluar merupakan bagian dari siklus pasar, dan akan ada penyesuaian di masa mendatang.

Selain itu, Main Agenda OJK memberikan gambaran bahwa pasar modal Indonesia tetap memiliki potensi untuk pulih jika kondisi ekonomi global membaik. Dengan adanya kenaikan minat investor asing di sektor obligasi, serta peningkatan jumlah investor di pasar, ada harapan bahwa IHSG akan kembali membaik dalam beberapa bulan ke depan. Hasan Fawzi berharap bahwa Main Agenda ini bisa menjadi acuan bagi pengambil kebijakan dalam memperbaiki kondisi pasar dan menarik investasi tambahan.

Ikut berdiskusi