Main Agenda: Padahal Anak Konglomerat tapi Grace Tahir Akui Sempat Galau dan Frustrasi di Usia 20-an, Kok Bisa?
Grace Tahir: Anak Konglomerat Juga Galau di Usia 20-an, Kok Bisa? Pengalaman Pribadi di Usia 20-an yang Tidak Terduga Main Agenda - Sebagai anak dari
Grace Tahir: Anak Konglomerat Juga Galau di Usia 20-an, Kok Bisa?
Pengalaman Pribadi di Usia 20-an yang Tidak Terduga
Main Agenda – Sebagai anak dari konglomerat ternama, Grace Tahir tidak pernah menyangka bahwa usia 20-an akan menjadi masa yang penuh tantangan dan keraguan. Meski tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa dengan kemewahan dan keberhasilan, ia mengungkap bahwa dulu ia mengalami masa-masa penuh kebingungan dan frustrasi. Pada usia muda, Grace sempat merasa tertekan karena diharapkan menjalani jalur yang telah ditentukan oleh keluarga, namun ia merasa perlu menemukan identitas dan tujuan hidup sendiri.
Jalannya ke Dunia Bisnis: Tantangan dan Keterbukaan
Grace Tahir, putri dari Dato Sri Tahir, pendiri Mayapada Group, dan Rosy Riady, anak dari Mochtar Riady, pendiri Lippo Group, memang lahir dalam lingkungan bisnis yang mewah. Namun, di balik kekayaan dan pengaruh keluarga, ia mengakui bahwa pengalaman pribadinya berbeda dari yang dibayangkan. Selama usia 20-an, Grace harus menghadapi tekanan untuk mengikuti jejak orang tua, tetapi ia juga memperoleh kesempatan untuk menjelajahi minat dan passion-nya sendiri.
Dalam wawancara bersama kreator konten Emil Mario, Grace menjelaskan bahwa masa muda sekarang tidak selalu seperti yang dianggap ideal. “Masa muda saya penuh kebingungan. Masih terus mencari apa yang sebenarnya ingin saya lakukan,” katanya, seperti yang dilaporkan dari YouTube Slay and Say pada Minggu, 12 Juli 2026. Ia merasa bahwa kehidupan yang dijalani di era 20-an sangat berbeda dari generasi sebelumnya, terutama dalam hal kemandirian dan kebebasan menentukan arah hidup.
Keputusan Berani dan Transformasi Pribadi
Salah satu tantangan besar yang dihadapi Grace adalah bagaimana ia mengatasi rasa kurang percaya diri di tengah lingkungan yang memprioritaskan prestasi. Ia mengakui bahwa awalnya merasa frustrasi karena sering kali mengikuti instruksi keluarga tanpa mengetahui apakah hal tersebut sesuai dengan visi hidupnya. “Saya diharuskan berada di bisnis keluarga. Tapi sering kali merasa, ‘Apakah ini jalan yang benar-benar sesuai dengan keinginan saya?'” tambahnya dalam wawancara tersebut.
Di tengah perasaan gelisah itu, Grace tetap berusaha menemukan jalan yang paling sesuai. Ia memulai dengan membangun fondasi kecil di bidang kesehatan, teknologi, dan investasi, sebelum akhirnya menjadi bagian dari berbagai perusahaan besar. Proses ini menuntut ketekunan dan keberanian untuk melepaskan kebiasaan yang sudah terbentuk, serta mengambil risiko dalam membangun karier pribadinya.
Grace juga menekankan bahwa usia 20-an adalah masa yang penuh peluang. Ia menyebut bahwa generasi muda saat ini memiliki lebih banyak kebebasan untuk mengeksplorasi minat dan passion-nya. “Anak muda kini lebih paham tentang apa yang mereka inginkan dibanding generasi sebelumnya,” kata Grace. Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa keputusan yang diambil di usia muda bisa membawa hasil yang lebih baik, selama ada komitmen dan kesabaran.
Peran dan Pengaruh dalam Dunia Bisnis
Di saat ini, Grace Tahir telah menjadi tokoh bisnis yang dihormati. Ia menjabat sebagai CEO Mayapada Hospital, Komisaris PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), serta aktif dalam pengembangan bisnis di bidang teknologi, investasi, dan konten digital. Selain itu, ia juga dikenal melalui podcast dan media sosial yang membahas topik seperti kesehatan, peningkatan diri, dan pengambilan keputusan pribadi.
Keberhasilan Grace tidak hanya terlihat dari posisinya di perusahaan besar, tetapi juga dari cara ia menginspirasi orang lain. Ia sering membagarkan pengalaman pribadinya sebagai contoh bahwa bahkan anak konglomerat pun bisa mengalami kegalauan dan harus berjuang keras untuk menemukan jalan yang tepat. Dengan Main Agenda sebagai platform utama, ia berharap bisa membantu generasi muda memahami bahwa ketidakpastian adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan.
Grace juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. “Ketika saya masih muda, sering kali merasa seperti terjebak dalam rutinitas bisnis keluarga, tetapi sekarang saya bisa menyesuaikan waktu untuk mengejar apa yang benar-benar saya sukai,” katanya. Dengan mengelola perusahaan-perusahaan yang ia pimpin, ia tetap mempertahankan kesadaran akan kebutuhan dirinya sendiri, termasuk dalam menentukan agenda hidup yang lebih personal.
Dalam dunia bisnis, Grace Tahir menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari status sosial atau kekayaan, tetapi juga dari kemampuan menyesuaikan diri dan menemukan makna hidup. Ia mengajak generasi muda untuk tidak takut mencoba hal baru, meskipun harus menghadapi rasa tidak yakin di awal perjalanan. “Main Agenda tidak hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menemukan tujuan hidup yang sesuai dengan diri sendiri,” pungkas Grace, menegaskan bahwa kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.