Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Bisnis

Rupiah Makin Melemah ke Rp 18.104 Meski Pasar Respons Positif Proyeksi IMF & ADB soal Pertumbuhan Ekonomi RI 2026

Elizabeth Thomas - faktanaya.com 3 mins baca

Proyeksi IMF & ADB Rupiah Makin Melemah ke Rp 18 104 - Rupiah Makin Melemah ke Rp 18.104 – Jakarta, VIVA – Rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar

Rupiah Makin Melemah ke Rp 18.104 Meski Pasar Respons Positif Proyeksi IMF & ADB soal Pertumbuhan Ekonomi RI 2026

Rupiah Melemah ke Rp 18.104, Pasar Antusias dengan Proyeksi IMF & ADB

Rupiah Makin Melemah ke Rp 18 104 – Rupiah Makin Melemah ke Rp 18.104 – Jakarta, VIVA – Rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar AS, mencapai level Rp 18.104 pada hari ini. Pergerakan ini menunjukkan ketidakstabilan pasar, meskipun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh IMF dan ADB memberikan sentimen positif. Berdasarkan data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor BI), kurs rupiah berada di Rp 18.069 pada Jumat, 10 Juli 2026, naik 21 poin dari hari sebelumnya yang berada di Rp 18.090. Namun, pada Senin, 13 Juli 2026, rupiah diperdagangkan di Rp 18.104 per dolar AS, turun 39 poin atau 0,22 persen dibandingkan hari Kamis, 9 Juli 2026.

Kurs rupiah yang terus melemah ke Rp 18.104 mencerminkan tekanan dari berbagai faktor ekonomi. Meski pasar reaktif terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan meningkat, angka 5,0 persen oleh IMF dan 5,2 persen oleh ADB, dinamika mata uang masih dipengaruhi oleh kinerja ekspor-impor, inflasi, dan kebijakan moneter. Meski pertumbuhan ekonomi diperkirakan stabil, kekuatan daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, yang memengaruhi permintaan di sektor konsumsi.

Proyeksi IMF & ADB: Dinamika Ekonomi RI 2026

Menurut Ibrahim Assuaibi, ahli ekonomi dan pasar uang, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 yang dipertahankan IMF dan ADB memberikan harapan baru bagi investor. Meski rupiah melemah ke Rp 18.104, pernyataan lembaga internasional ini membawa dampak positif pada kepercayaan pasar.

IMF memperkirakan PDB Indonesia tumbuh 5,1 persen pada 2027, sedangkan ADB menetapkan proyeksi 5,2 persen untuk dua tahun berturut-turut, 2026 dan 2027. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia yang diperkirakan turun ke 4,8 persen. Meski proyeksi tersebut optimis, Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa pertumbuhan 5 persen masih di bawah target pemerintah yang sebesar 5,4 persen dalam APBN 2026.

Kinerja ekonomi Indonesia di 2026 tergantung pada beberapa variabel kunci, seperti kebijakan fiskal yang lebih ketat, kestabilan harga bahan bakar nonsubsidi, dan pertumbuhan sektor manufaktur. Sejumlah analis menyebutkan bahwa proyeksi IMF dan ADB memberikan indikasi bahwa stabilitas makroekonomi negara masih bisa terjaga meski ada tekanan dari eksternal.

Kondisi Pasar: Penjualan Mobil dan Konsumsi Rumah Tangga

Penjualan mobil nasional pada semester I-2026 mencapai 77.550 unit, naik 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan permintaan tetap kuat, namun belum mencerminkan pemulihan total daya beli masyarakat.

Permintaan di sektor otomotif berjalan positif, dengan penjualan mobil baru hingga Juni 2026 mencapai 436.564 unit, naik 15,9 persen secara tahunan. Meski demikian, Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa tren ini belum cukup untuk menyelamatkan kurs rupiah dari tekanan. Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi dan inflasi yang masih tinggi terus membebani konsumen, menyebabkan daya beli mereka terkikis.

Secara kumulatif, sektor konsumsi rumah tangga masih menunjukkan penurunan dari tahun sebelumnya. Perlu waktu lebih lama untuk memulihkan kondisi ekonomi domestik, terutama jika upaya pemerintah dalam mengendalikan inflasi tidak efektif. Namun, proyeksi pertumbuhan ekonomi RI 2026 yang menjanjikan bisa memberikan stimulan positif bagi kepercayaan investor.

Faktor Eksternal: Gejolak Global dan Perdagangan Internasional

Kurs rupiah yang melemah ke Rp 18.104 juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global. Rupiah cenderung terpantau lebih rentan terhadap perubahan suku bunga AS dan kebijakan moneter internasional. Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa apresiasi dolar AS dan tekanan inflasi di luar negeri terus memengaruhi aliran modal ke Indonesia.

Beberapa indikator ekonomi global seperti pertumbuhan China, kebijakan AS terhadap perdagangan, dan kenaikan suku bunga acuan juga berdampak pada kestabilan rupiah. Meski negara-negara berkembang di Asia menunjukkan peningkatan pertumbuhan, rupiah masih jatuh karena perbedaan rasio pertumbuhan antara Indonesia dan negara-negara lain. Selain itu, kinerja ekspor Indonesia yang menurun dalam beberapa bulan terakhir menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tekanan pada mata uang lokal.

Rupiah Makin Melemah ke Rp 18.104 juga mencerminkan ketergantungan ekonomi Indonesia pada komoditas global. Kinerja sektor pertanian, energi, dan logam sangat berpengaruh pada nilai tukar rupiah. Meski permintaan di sektor manufaktur mulai menunjukkan peningkatan, keberhasilan menjaga stabilitas ekspor masih menjadi tantangan utama bagi pemerintah.

Dalam jangka pendek, pelemahan rupiah ke Rp 18.104 bisa berdampak pada biaya impor dan inflasi. Namun, jika proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh IMF dan ADB terpenuhi, ekspektasi pasar akan terus mendukung kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah. Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa berita baik tentang pertumbuhan ekonomi bisa mengurangi tekanan terhadap rupiah, terutama jika kebijakan fiskal dan moneter terus diperbaiki.

Ikut berdiskusi