Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Bisnis

Rupiah Melemah ke Rp 17.931 saat Pasar Antisipasi Kenaikan BI Rate di Pengumuman RDG BI Hari ini

Betty Smith - faktanaya.com 3 mins baca

Rupiah Melemah ke Rp 17 931 saat pasar valuta asing Jakarta hari ini menunjukkan volatilitas yang cukup signifikan. Berdasarkan catatan Jakarta Interbank Spot

Rupiah Melemah ke Rp 17.931 saat Pasar Antisipasi Kenaikan BI Rate di Pengumuman RDG BI Hari ini

Rupiah Melemah ke Rp 17.931 di Tengah Ekspektasi Kenaikan BI Rate

Faktanaya.com – Rupiah Melemah ke Rp 17 931 saat pasar valuta asing Jakarta hari ini menunjukkan volatilitas yang cukup signifikan. Berdasarkan catatan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) milik Bank Indonesia, nilai tukar rupiah tercatat berada di angka Rp 17.909 pada Selasa, 21 Juli 2026. Angka ini merepresentasikan penguatan sebesar 67 poin dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp 17.976 pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026. Namun, momentum positif tersebut tidak bertahan lama. Pada perdagangan pasar spot Rabu, 22 Juli 2026, hingga pukul 09.01 WIB, rupiah ditransaksikan pada level Rp 17.931 per dolar AS. Kondisi ini menandakan pelemahan sebesar 43 poin atau setara dengan 0,24 persen dari posisi sebelumnya yang berada di Rp 17.888 per dolar AS.

Faktor Pemicu Volatilitas Nilai Tukar

Lukman Leong, analis dari Doo Financial Futures, mengidentifikasi bahwa sentimen pasar saat ini didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pada Rabu, 22 Juli 2026, pasar memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin (bps). Ekspektasi ini muncul setelah BI melakukan langkah pengetatan sebelumnya pada Mei 2026 ketika BI-Rate naik sebesar 50 basis poin. Kenaikan tersebut merupakan penyesuaian pertama sejak suku bunga acuan ditetapkan di level 4,75 persen pada September 2025.

Perjalanan rupiah sepanjang tahun ini memang penuh liku. Pada awal Juni, nilai tukar sempat menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS sebelum kemudian pulih secara bertahap. Langkah BI melalui RDG Mingguan pada 9 Juni 2026 berhasil mendorong rupiah kembali ke bawah level Rp18 ribu. Selanjutnya, dalam RDG Bulanan tanggal 18 Juni 2026, BI melanjutkan kebijakan pengetatan dengan menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar domestik di tengah ketidakpastian global.

Dampak Kondisi Fiskal terhadap Sentimen Investor

Penguatan yang terjadi pada perdagangan Selasa lalu tidak lepas dari respons positif investor terhadap data fiskal Indonesia. Pemerintah berhasil melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 0,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Juni 2026. Hal ini turut meredam kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik. Lukman menambahkan bahwa pemerintah juga berkomitmen mempertahankan proyeksi defisit APBN 2026 di bawah batas 3 persen dari PDB.

“Serta mempertahankan proyeksi defisit APBN 2026 di bawah batas 3 persen dari PDB,” ujarnya.

Ke depan, BI dijadwalkan kembali menggelar RDG Bulanan pada periode 21-22 Juli 2026 mendatang. Dengan demikian, pasar saat ini sedang menunggu dengan cermat keputusan BI dalam RDG hari ini untuk menentukan arah pergerakan rupiah ke depannya. Jika BI memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sesuai ekspektasi pasar, maka rupiah diperkirakan akan mengalami penguatan lebih lanjut. Sebaliknya, jika keputusan tetap di level saat ini, volatilitas mungkin akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

Para pelaku pasar juga memperhatikan perkembangan nilai tukar mata uang utama dunia, terutama dolar AS yang dipengaruhi oleh kebijakan Federal Reserve. Ketegangan geopolitik global dan perubahan sentimen investor terhadap emerging markets juga menjadi faktor tambahan yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Oleh karena itu, monitoring terhadap berbagai indikator ekonomi domestik dan internasional menjadi sangat penting bagi investor dan pelaku bisnis yang berkecimpung di pasar valuta asing Indonesia.

Ikut berdiskusi