Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Gaya Hidup

Anak hingga Dewasa Berisiko Kena DBD – Ketahui Tanda-tandanya!

Richard Garcia - faktanaya.com 3 mins baca

a DBD, Ketahui Tanda-tandanya! Anak hingga Dewasa Berisiko Kena DBD - Dengue atau DBD adalah penyakit yang tidak hanya mengancam anak-anak, tetapi juga

Anak hingga Dewasa Berisiko Kena DBD – Ketahui Tanda-tandanya!

Anak hingga Dewasa Berisiko Kena DBD, Ketahui Tanda-tandanya!

Anak hingga Dewasa Berisiko Kena DBD – Dengue atau DBD adalah penyakit yang tidak hanya mengancam anak-anak, tetapi juga memengaruhi berbagai kelompok usia hingga dewasa. Penyakit ini menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang merupakan penyebar utama virus dengue. Dengan kondisi iklim yang semakin tidak menentu, risiko penyebaran DBD semakin meningkat, mengharuskan masyarakat semua usia untuk lebih waspada terhadap gejala-gejala yang mungkin muncul. Anak hingga dewasa berisiko kena DBD, baik karena aktivitas sehari-hari maupun faktor lingkungan yang mempermudah perkembangbiakan nyamuk.

Faktor-Faktor yang Memicu Penyebaran DBD

Penyebaran DBD tidak hanya dipengaruhi oleh cuaca, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari masyarakat. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di genangan air yang tergenang, seperti wadah bekas minuman, ember, atau bekas air hujan. Kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran virus dengue. Anak hingga dewasa berisiko kena DBD karena paparan lingkungan yang lebih tinggi, terutama di daerah perkotaan dengan padatnya populasi dan kurangnya kesadaran akan tindakan pencegahan.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, keberadaan nyamuk Aedes aegypti di permukiman padat akan meningkatkan risiko terjangkit DBD. Kondisi ini memperparah ancaman DBD, terlebih pada musim hujan atau saat terjadi fenomena iklim seperti El Niño, yang memengaruhi suhu dan curah hujan. Anak hingga dewasa berisiko kena DBD karena lebih rentan terhadap aktivitas nyamuk, terutama di malam hari saat mereka beraktivitas.

Dampak Ekonomi dan Sosial DBD

DBD tidak hanya mengakibatkan dampak kesehatan, tetapi juga berdampak signifikan pada ekonomi masyarakat. Studi terbaru yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebutkan bahwa kerugian ekonomi akibat DBD pada tahun 2024 diperkirakan mencapai hampir Rp9 triliun. Biaya ini mencakup pengobatan, biaya transportasi pasien, dan kehilangan produktivitas selama masa pemulihan. Anak hingga dewasa berisiko kena DBD, sehingga pengeluaran untuk pencegahan dan penanganan harus ditingkatkan secara massal.

Selain itu, biaya pengobatan bagi pasien DBD juga meningkatkan beban keluarga. Diperkirakan dalam lima tahun terakhir, lebih dari dua juta kasus rawat inap terkait DBD terjadi. BPJS Kesehatan menanggung sekitar Rp3 triliun dari total biaya, sedangkan peserta dan keluarga harus mengeluarkan Rp3,5 triliun sebagai biaya tambahan. Pasien yang tidak memiliki akses ke BPJS, termasuk anak-anak dan dewasa, mungkin mengalami kesulitan finansial terutama jika kondisi kesehatan memburuk.

Gejala DBD dan Perbedaan Usia Penderita

Pencegahan DBD membutuhkan kesadaran akan gejala-gejala yang mungkin muncul. Untuk anak-anak, gejala umum meliputi demam tinggi, mual, dan kelelahan. Namun, jika tidak segera ditangani, DBD bisa berubah menjadi penyakit berat dengan risiko komplikasi seperti perdarahan internal atau gagal jantung. Anak hingga dewasa berisiko kena DBD karena sistem kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya matang, terutama pada kelompok usia 5–14 tahun yang mencatatkan kematian tertinggi selama tujuh tahun terakhir.

Di sisi lain, kelompok usia produktif (15–44 tahun) menjadi yang paling banyak terjangkit DBD. Faktor-faktor seperti mobilitas tinggi dan lingkungan kerja yang rawan genangan air memperbesar risiko tertular. Dengan adanya perubahan iklim, seperti fenomena El Niño yang diperkirakan memiliki peluang 80 persen terjadi antara Juni hingga Agustus 2026, suhu dan curah hujan yang tidak stabil akan mempercepat siklus hidup nyamuk, menambah risiko anak hingga dewasa berisiko kena DBD.

Pencegahan dan Pengendalian DBD

Untuk mencegah DBD, perlu dilakukan upaya bersama dari pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Pembersihan genangan air di sekitar rumah, penggunaan kelambu, dan penggunaan obat anti nyamuk adalah langkah-langkah yang efektif. Anak hingga dewasa berisiko kena DBD, sehingga penting untuk memberikan edukasi tentang kebersihan lingkungan dan cara mencegah serangan nyamuk kepada semua kelompok usia. Program vaksinasi dan penegakan protokol kesehatan juga menjadi upaya penting dalam mengurangi angka penyebaran DBD.

Di samping itu, pengawasan terhadap lingkungan dan perbaikan infrastruktur air bisa mengurangi kemungkinan terjadinya genangan yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Anak hingga dewasa berisiko kena DBD, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan pengelolaan sampah yang kurang baik. Masyarakat perlu lebih waspada dan proaktif dalam mengantisipasi DBD, karena penyakit ini bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Edukasi dan pemeriksaan rutin menjadi kunci dalam mengurangi risiko terjangkit.

Ikut berdiskusi