Bikin Konten Viral Saja Tak Cukup, Kreator Kini Dituntut Punya Literasi Digital
Bikin Konten Viral Saja Tak Cukup - Jakarta, VIVA – Era digital saat ini menuntut para content creator untuk melampaui batas kemampuan teknis semata. Membuat
Bikin Konten Viral Saja Tak Cukup, Kreator Butuh Literasi Digital
Faktanaya.com – Bikin Konten Viral Saja Tak Cukup – Jakarta, VIVA – Era digital saat ini menuntut para content creator untuk melampaui batas kemampuan teknis semata. Membuat video yang menarik atau meraih miliaran views saja tidak lagi memadai. Di tengah banjir informasi yang mengalir deras melalui platform media sosial, para kreator dituntut memiliki literasi digital yang kuat agar pesan yang mereka sampaikan tidak menyesatkan publik.
Kemampuan memproduksi dan mendistribusikan informasi kini berada di genggaman tangan siapa pun berkat smartphone. Tanpa adanya proses verifikasi yang ketat, sebuah konten berisiko menyebarkan kekeliruan fakta yang dapat memicu kesalahpahaman di masyarakat luas. Literasi digital menjadi kunci penting untuk memastikan setiap konten yang dibagikan memiliki dasar kebenaran yang kuat.
Bootcamp Content Creator: Membangun Kreator Bertanggung Jawab
Masalah literasi digital ini menjadi fokus utama dalam Bootcamp Content Creator yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Antara di ibukota. Program pelatihan ini lahir dari sinergi antara LKBN Antara dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta mendapat dukungan dari berbagai pihak termasuk BNI, Perum Bulog, dan PT Asuransi Jasa Indonesia.
Kolaborasi ini bertujuan menciptakan generasi kreator digital yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi. Dalam program ini, peserta diajak untuk memahami bahwa membuat konten bukan hanya soal estetika visual, tetapi juga tentang akurasi informasi yang disampaikan.
Direktur Utama LKBN Antara, Benny Siga Butar Butar, menekankan bahwa perkembangan dunia media digital menuntut kehadiran kreator yang memahami kedua sisi: aspek teknis dan dampak sosial dari setiap konten yang mereka publikasikan. Ia menambahkan bahwa literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi setiap kreator konten.
Bootcamp Content Creator yang diselenggarakan bersama beberapa mitra ini sebagai upaya untuk membangun generasi muda yang lebih memiliki kemampuan tapi juga kepedulian sosial yang besar. Jadi di sini dilatih untuk mereka mampu dapat memberikan dampak bagi masyarakat secara luas lewat konten kreasi yang mereka hasilkan, ujarnya, dikutip Sabtu 1 Agustus 2026.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh peserta berusia 17 hingga 20 tahun. Mereka mempelajari berbagai aspek penting dalam pembuatan konten digital, mulai dari menentukan sudut pandang, menyusun konsep kreatif, teknik produksi, hingga mengembangkan gaya penyampaian yang sesuai dengan karakter pribadi masing-masing.
Selain materi teknis, peserta juga mendapatkan pemahaman mendalam mengenai literasi media. Hal ini bertujuan agar mereka mampu membedakan informasi yang valid dengan konten yang belum terverifikasi kebenarannya. Bekal ini sangat krusial mengingat media sosial telah menjadi salah satu sumber informasi utama bagi masyarakat Indonesia.
Tantangan Penyebaran Konten Tanpa Dasar Fakta
Syali Gestanon, Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta, menilai bahwa tantangan terbesar saat ini adalah maraknya penyebaran konten yang tidak didasarkan pada fakta dan data yang akurat. Banyak konten yang viral namun tidak memiliki dasar kebenaran yang kuat.
Dengan demikian, menjadi content creator di era modern bukan lagi sekadar soal viralitas, melainkan juga tentang tanggung jawab dalam menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. Bikin Konten Viral Saja Tak Cukup untuk membangun kepercayaan audiens dalam jangka panjang.
Para kreator perlu menyadari bahwa setiap konten yang mereka buat memiliki dampak terhadap masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk selalu melakukan verifikasi fakta sebelum membagikan informasi kepada publik. Dengan literasi digital yang baik, kreator dapat menjadi agen perubahan positif dalam masyarakat digital Indonesia.