Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Bola

What Happened During: Flare Menyala, Denda Mengalir: Ulah Suporter Bikin Persija, Persib dan Persebaya Menangis

Charles Lopez - faktanaya.com 3 mins baca

ter yang Menyebabkan Gangguan di Liga Super 2025/2026 What Happened During menyedot perhatian publik setelah Komdis PSSI kembali memberikan hukuman tegas

What Happened During: Flare Menyala, Denda Mengalir: Ulah Suporter Bikin Persija, Persib dan Persebaya Menangis

What Happened During: Sanksi PSSI untuk Suporter yang Menyebabkan Gangguan di Liga Super 2025/2026

What Happened During menyedot perhatian publik setelah Komdis PSSI kembali memberikan hukuman tegas kepada sejumlah tim dalam Liga Super 2025/2026. Pihak penyelenggara menyatakan sanksi ini sebagai respons atas pelanggaran serius yang terjadi pada pekan ke-34, khususnya ulah suporter yang mengganggu jalannya pertandingan dan memicu reaksi dari pihak pengelola stadion.

Momen Kericuhan dalam Pertandingan

Pada hari pertandingan antara Persija Jakarta melawan Semen Padang, suporter yang menunggu di tribun langsung menyalakan flare dan smoke bomb yang membuat situasi memanas. Puluhan flare dinyalakan secara bersamaan di menit ke-70, menyebabkan jeda sekitar 30 menit sebelum laga dilanjutkan. Fenomena serupa terjadi saat Persib Bandung menghadapi Persijap Jepara, di mana flare di sektor penonton menjadi penyebab gangguan serius. Dalam laga Persebaya Surabaya melawan Persik Kediri, petasan dan flare kembali memicu ketegangan hingga menit akhir, membuat pertandingan sempat terhenti.

Keluhan terus mengalir dari para pemain, pelatih, dan pengurus klub. Dalam sebuah wawancara, pelatih Persija menyatakan bahwa flare dan petasan membuat suasana pertandingan kacau dan mengganggu fokus tim saat menyerang. “What Happened During itu terjadi karena kecerobohan suporter, mereka tak hanya menyalakan flare, tetapi juga memasukkan penonton ke lapangan setelah pertandingan selesai,” ujar salah satu pelatih yang terkena dampak langsung.

Detail Sanksi dan Denda

Setelah investigasi Komdis PSSI, tiga klub besar, yaitu Persija Jakarta, Persib Bandung, dan Persebaya Surabaya, mendapatkan hukuman paling berat dengan denda Rp250 juta masing-masing. Sanksi ini diberikan karena ulah suporter yang terus-menerus menyalakan flare dan smoke bomb, serta memasukkan penonton ke area lapangan. Dalam pertandingan Persija, denda tambahan Rp60 juta diberikan setelah flare terus dinyalakan di tribun hingga usai pertandingan.

Klub lain seperti Madura United FC juga menerima denda Rp60 juta setelah suporter mereka menyalakan dua smoke bomb dan flare setelah pertandingan melawan PSM Makassar. Sementara itu, Persik Kediri dijatuhi denda Rp50 juta karena lima pemain mereka menerima kartu kuning dalam laga melawan Persebaya Surabaya. PSIM Yogyakarta juga kena hukuman Rp25 juta akibat kehadiran suporter tim lawan saat menghadapi Arema FC.

What Happened During ini menjadi momentum penting bagi PSSI untuk memberikan peringatan tegas kepada suporter. Selain denda, Komdis PSSI juga memberikan sanksi tambahan, seperti pengurangan poin untuk tim-tim yang terlibat. Dalam sebuah pernyataan, Ketua Komdis PSSI mengungkapkan bahwa ulah para suporter tidak hanya mengganggu pertandingan, tetapi juga menunjukkan ketidakpuasan terhadap keputusan wasit dan pengelolaan pertandingan.

Konteks dan Dampak pada Liga Super

Pelanggaran yang terjadi pada pekan ke-34 menunjukkan bahwa permasalahan suporter masih menjadi ancaman serius bagi kompetisi. Dalam pertandingan di stadion tertentu, flare dan petasan dinyalakan secara terus-menerus, hingga mengakibatkan terjadinya kekacauan. Para pemain dan pelatih menyesal karena kejadian ini mengganggu performa tim dan mengurangi pengalaman bermain di stadion.

What Happened During juga memicu diskusi luas di media sosial, di mana banyak netizen menyoroti sikap suporter yang tidak terkendali. Kritik terbanyak dialihkan kepada pihak pengelola stadion yang dianggap tidak mampu mencegah kekacauan. “Kami sudah memberikan peringatan, tetapi suporter masih mengulangi tindakan yang sama,” kata seorang staf dari Komdis PSSI dalam wawancara eksklusif.

Berdasarkan data dari Komdis PSSI, penggunaan flare dan smoke bomb telah mencapai angka yang signifikan. Dalam beberapa pertandingan, flare dinyalakan hingga 30 kali dalam satu laga, sementara petasan terus terdengar sepanjang pertandingan. Fakta ini mengakibatkan pengurangan kualitas pertandingan dan membuat banyak penonton kecewa karena kejadian yang mengganggu pengalaman menonton.

Ikut berdiskusi