Skip to content
Fresh Desk
Agustus 7, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Nasional

IDI: Burn Out Bukan Alasan Nakes Berkomentar Nirempati ke Pasien

Nancy Jones - faktanaya.com 2 mins baca

IDI - Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) telah mengidentifikasi sepuluh tenaga medis dan kesehatan yang diduga memberikan komentar tidak pantas kepada almarhum

IDI: Burn Out Bukan Alasan Nakes Berkomentar Nirempati ke Pasien

KKI dan IDI Respons Komentar Nirempati Nakes ke Pasien BPJS

Faktanaya.com – IDI – Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) telah mengidentifikasi sepuluh tenaga medis dan kesehatan yang diduga memberikan komentar tidak pantas kepada almarhum Yurizal Tri Chaerawan, seorang peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), melalui platform media sosial. Langkah investigasi lebih lanjut akan segera dilakukan oleh lembaga tersebut.

dr. Mohammad Syahril, anggota Pimpinan KKI, menjelaskan bahwa investigasi akan melibatkan berbagai pihak termasuk organisasi profesi, institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, serta pemerintah daerah. Tujuannya adalah untuk menentukan jenis pelanggaran yang terjadi, apakah termasuk pelanggaran etika, disiplin profesi, atau pelanggaran hukum.

IDI: Burn Out Bukan Pembenaran Sikap Buruk

Dalam responsnya, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menegaskan bahwa kondisi burn out tidak menjadi alasan bagi tenaga kesehatan untuk bersikap kurang sopan kepada pasien. Pernyataan ini muncul menyusul dugaan komentar nirempati yang dilontarkan oleh seorang tenaga medis kepada pasien BPJS Kesehatan.

Wiweka, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Pengurus Besar IDI, merujuk pada pasal 21 Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI). Pasal tersebut menyebutkan bahwa dokter berkewajiban menjaga kesehatan fisik maupun mental, termasuk mengantisipasi risiko burn out.

“Ya mungkin dia kelelahan atau apa, tapi dalam ranah atau rangka pelaksanaan pelayanan kesehatan atau praktek profesinya dia harus mampu mengedepankan etika. Itu tidak dibenarkan,” ujar Wiweka.

Menurut Wiweka, menjadi tenaga kesehatan berarti menjunjung tinggi etika terhadap pasien, mengingat pelayanan kesehatan berkaitan langsung dengan nyawa manusia. Dokter tidak menjanjikan hasil tertentu, melainkan berkomitmen untuk memberikan perbuatan terbaik.

Koordinasi dengan MKEK dan Potensi Sanksi

IDI telah berkoordinasi dengan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) untuk melakukan klarifikasi terkait sepuluh tenaga kesehatan yang teridentifikasi. Setelah proses klarifikasi selesai, langkah pembinaan akan dilakukan sebagai tindak lanjut.

Terkait pemberian sanksi, Wiweka menjelaskan bahwa pendalaman kasus akan menentukan jenis hukuman. Jika perilaku tersebut mengandung dugaan pelanggaran etik yang kuat, maka sidang etik akan digelar. Sanksi diberikan sesuai dengan gradasi dugaan pelanggaran.

“Tapi konsepnya kita tetap adalah pembinaan, karena etika itu perlu dilakukan pembinaan, drill yang berulang-ulang sehingga bisa menjadi budaya,” tambahnya.

Sementara itu, KKI juga mengindikasikan adanya potensi identifikasi lebih banyak tenaga kesehatan dan medis yang diduga mengirimkan komentar nirempati kepada almarhum Yurizal Tri Chaerawan. Foto: Threads/yurizaltrich

Frequently Asked Questions

What is IDI?

IDI is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does IDI matter?

IDI matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Ikut berdiskusi