Gaya Hidup

Kapan Terapi Sel Bisa Dipakai untuk Kanker? Dokter Ungkap Tahapan Pengobatannya

5d35b71d6459f-selain-lezat-buah-dan-sayuran-ini-cegah-dan-bunuh-sel-kanker_1265_711

Kapan Terapi Sel Bisa Dipakai untuk Kanker?

Faktanaya.com – Kapan Terapi Sel Bisa Dipakai menjadi pertanyaan yang semakin sering diajukan seiring maraknya pemberitaan tentang teknologi imunoterapi. Jawabannya singkat: terapi sel imun bukan pengganti kemoterapi, operasi, atau radioterapi, melainkan pelengkap di ujung rangkaian pengobatan. Dr. Sandy Qlintang, M.Biomed—Presiden Direktur PT Bifarma Adiluhung—menjelaskan bahwa istilah yang tepat adalah “terapi sel imun”, bukan terapi sel punca. Perbedaan istilah ini menentukan mekanisme kerja, sumber sel, dan tujuan klinis intervensi yang dimaksud.

Cara Kerja: Memperkuat Sel Imun Pasien Sendiri

Prosedur dimulai dengan pengambilan sel imun langsung dari tubuh pasien. Di laboratorium, sel-sel itu diproses agar kapasitas pengenalan dan penghancuran sel tumor meningkat secara drastis. Setelah diperkuat, sel imun yang telah dimodifikasi dikembalikan ke dalam tubuh dengan satu tujuan: menyerang sisa sel kanker yang masih bertahan. Pendekatan ini tidak menciptakan sel baru dari nol; ia mengoptimalkan sel yang sudah ada agar bekerja lebih agresif terhadap target spesifik.

Perbedaan mendasar dengan transplantasi sel punca terletak pada tujuan akhirnya. Transplantasi sel punca bertujuan menggantikan jaringan rusak atau membangun kembali organ. Terapi sel imun, sebaliknya, memperkuat respons kekebalan yang sudah dimiliki pasien agar lebih tajam terhadap tumor.

Urutan Tahapan Pengobatan yang Tidak Bisa Dilewati

Dr. Sandy menegaskan bahwa terapi sel imun tidak berdiri sendiri sebagai satu-satunya pilihan terapeutik. Ia harus diposisikan sebagai komponen dalam rangkaian metode pengobatan berjenjang yang disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing pasien. Urutan tersebut bergerak dari intervensi paling standar hingga pendekatan paling mutakhir.

“Ya, terapi cancer itu kan ada tahapannya. Pertama yang paling terstandar adalah kemoterapi. Bedah yang dibuang, ada radioterapi. Nah terus lebih advance lagi seperti penggunaan antibodi. Nah itu kan yang target-in. Lalu terakhir adalah terapi sel. Tahapan-tahapan itu harus dilalui,” ujar dr. Sandy disela acara Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 yang digelar Kalbe di Jakarta, Sabtu 29 Agustus 2026.

Setiap lapisan pengobatan memiliki fungsi tersendiri. Kemoterapi menekan pertumbuhan tumor secara sistemik. Operasi mengangkat massa tumor secara fisik. Radioterapi menghancurkan sel-sel yang tersisa di area lokal. Antibodi monoklonal menargetkan molekul spesifik pada permukaan sel kanker. Di ujung spektrum tersebut, terapi sel imun hadir sebagai penguat terakhir dalam skema pengobatan.

Peran Ajuvan: Memperkuat, Bukan Menggantikan

Posisi terapi sel imun dalam skema pengobatan bersifat ajuvan—ia menambah dan memperkuat efek dari terapi yang telah diberikan sebelumnya. Efektivitasnya meningkat secara signifikan ketika sel kanker berada dalam kondisi yang disebut “panas”, yakni kondisi di mana sel tumor telah mengalami stres akibat kemoterapi sebelumnya.

“Ada terapi-terapi lain. Jadi terapi sel itu adalah ajuvan, jadi menambah, memperkuat. Jadi terapi sel ini kan berasal dari sel tubuh pasien. Sel sistem imunnya diambil, terus diperkuat di laboratorium untuk dimasukin lagi untuk menyerang sel cancer-nya. Nah terapi sel ini akan lebih efektif lagi kalau sel cancer-nya itu lebih panas. Panasnya itu karena ada kemoterapi. Nah kalau ada kemoterapi, sel cancer-nya akan bergerak tuh kepanasan. Terapi selnya akan masuk, itu akan menyerang sel cancer-nya. Targeted,” bebernya.

Mekanisme sinergi ini memiliki implikasi klinis yang penting. Kemoterapi tidak hanya membunuh sel tumor secara langsung, tetapi juga mengubah lingkungan mikro tumor sehingga menjadi lebih “terbaca” oleh sistem imun. Dalam kondisi tersebut, sel imun yang telah diperkuat dapat mengenali dan menyerang sisa sel kanker dengan presisi jauh lebih tinggi dibandingkan jika diberikan secara mandiri tanpa preparasi sebelumnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah terapi sel imun bisa menggantikan kemoterapi atau operasi? Tidak. Menurut penjelasan dr. Sandy, terapi sel imun berfungsi sebagai komponen ajuvan di tahap akhir rangkaian pengobatan. Kemoterapi, operasi, radioterapi, dan antibodi monoklonal tetap menjadi fondasi yang harus dilalui terlebih dahulu.

Bagaimana sel imun pasien diproses sebelum dikembalikan ke tubuh? Sel imun diambil dari pasien, kemudian diproses di lingkungan laboratorium agar kapasitas pengenalan dan serangan terhadap sel tumor meningkat. Setelah diperkuat, sel tersebut dikembalikan ke dalam tubuh untuk menyerang sisa sel kanker.

Kapan terapi sel imun paling efektif? Efektivitasnya meningkat ketika sel kanker berada dalam kondisi “panas”, yaitu setelah mengalami stres akibat kemoterapi sebelumnya. Kondisi tersebut membuat lingkungan mikro tumor lebih mudah dikenali oleh sel imun yang telah diperkuat.

Apakah terapi sel imun sama dengan transplantasi sel punca? Bukan. Transplantasi sel punca bertujuan menggantikan jaringan rusak atau membangun kembali organ. Terapi sel imun mengoptimalkan sel kekebalan yang sudah ada agar bekerja lebih agresif terhadap tumor; ia tidak menciptakan sel baru dari nol.

Frequently Asked Questions

What is Kapan Terapi Sel Bisa Dipakai?

Kapan Terapi Sel Bisa Dipakai is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kapan Terapi Sel Bisa Dipakai matter?

Kapan Terapi Sel Bisa Dipakai matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *