Kembangkan Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Jelantah, Pertamina Kenalkan Transisi Energi ke Anak Muda di IdeaFest 2026
Pertamina Kembangkan Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Jelantah
Faktanaya.com – Sektor penerbangan global masih menanggung beban emisi yang sangat besar, dengan sekitar 80 persen karbon dioksida berasal dari pembakaran jet fuel berbasis minyak bumi. Di tengah tekanan regulasi internasional untuk memangkas jejak karbon aviasi, PT Pertamina (Persero) mengambil langkah yang jarang dilakukan industri energi mana pun: mengolah minyak jelantah sisa dapur rumah tangga menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF). Program ini menjadi salah satu contoh konkret bagaimana Indonesia berupaya kembangkan bahan bakar pesawat yang bersumber dari limbah domestik, bukan dari sumur minyak.
Inovasi tersebut dipresentasikan langsung kepada ribuan pengunjung dalam gelaran IdeaFest 2026 di Jakarta Convention Center, Senayan. Melalui stan interaktif, Pertamina memaparkan seluruh rantai nilai—mulai pengumpulan minyak bekas gorengan di tingkat rumah tangga, proses hidrogenasi dan katalisis, hingga produk akhir yang memenuhi spesifikasi bahan bakar aviasi internasional.
Dari Laboratorium ke Langit: Dekade Riset dan Uji Lapangan
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menjelaskan bahwa jalur riset konversi minyak jelantah ke bahan bakar jet telah berjalan sejak 2015. Selama hampir satu dekade, tim internal melakukan optimasi proses katalitik, pengujian stabilitas termal, serta validasi terhadap standar spesifikasi bahan bakar aviasi. Tahap uji coba lapangan kemudian dilaksanakan pada rentang 2021–2025, mencakup pengujian pada mesin pesawat komersial dan evaluasi performa di kondisi operasional nyata.
"Minyak itu kita buat untuk bahan bakar pesawat udara. Namun jangan khawatir, ini aman karena risetnya sudah diinisiasi sejak 2015, diteliti secara ketat dan diuji coba dari 2021 hingga 2025." — Arya Dwi Paramita, Sabtu, 5 September 2026
Hasil pengujian lima tahun tersebut menjadi landasan bagi Pertamina untuk melangkah ke tahap komersialisasi bertahap. Bukti konkret kesiapan teknologi ini telah terwujud melalui Pelita Air Service, anak perusahaan Pertamina di sektor penerbangan, yang telah mengoperasikan SAF berbasis minyak jelantah pada rute Jakarta–Bali. Langkah tersebut menempatkan Indonesia di barisan negara yang mengintegrasikan bahan bakar penerbangan berkelanjutan ke dalam operasi komersial rutin, bukan sekadar demonstrasi sekali jadi.
Generasi Muda dan Partisipasi Publik sebagai Motor Transisi
Ibrahim Akbar, SAF Project Commercial dari PT Pertamina Patra Niaga, hadir di IdeaFest 2026 untuk memaparkan program konversi secara langsung. Ia mencatat bahwa topik minyak jelantah menjadi pertanyaan paling dominan dari audiens yang didominasi generasi muda.
"Hari ini saya berkesempatan mempresentasikan program Pertamina yang mengubah minyak jelantah menjadi bahan bakar terbarukan. Saya melihat antusiasme yang sangat besar. Dari semua yang bertanya, semuanya tentang UCO." — Ibrahim Akbar
Arya menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak semata bergantung pada teknologi di hulu, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat di hilir. Setiap rumah tangga yang menyimpan minyak bekas gorengan dan menyalurkannya ke titik pengumpulan resmi secara tidak langsung berkontribusi pada pasokan bahan bakar penerbangan nasional. Pendekatan ini berbeda dari model transisi energi konvensional yang identik dengan pembangunan pembangkit surya atau angin berskala besar; di sini, partisipasi publik menjadi pilar ekosistem energi rendah karbon.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang SAF Berbasis Minyak Jelantah
Apakah SAF dari minyak jelantah aman untuk pesawat komersial? Ya. Pertamina telah menyelesaikan riset sejak 2015 dan uji coba lapangan selama 2021–2025, mencakup parameter keselamatan seperti stabilitas termal, titik nyala, dan kompatibilitas dengan komponen mesin jet yang sudah terpasang di armada komersial.
Bagaimana masyarakat biasa bisa ikut serta? Cukup menyimpan minyak goreng bekas dalam wadah tertutup dan menyalurkannya ke titik pengumpulan resmi yang telah ditetapkan Pertamina. Minyak tersebut akan diolah menjadi bahan baku SAF melalui proses hidrogenasi dan katalisis.
Di rute mana SAF sudah digunakan secara komersial? Saat ini Pelita Air Service mengoperasikan SAF berbasis minyak jelantah pada koridor Jakarta–Bali, salah satu rute domestik tersibuk di Indonesia. Rute berjarak menengah ini dipilih sebagai medan validasi sebelum ekspansi ke koridor berjarak lebih jauh.
Kapan program ini pertama kali dirintis? Riset konversi minyak jelantah menjadi bahan bakar jet diinisiasi Pertamina pada tahun 2015, dengan uji coba lapangan dilaksanakan pada periode 2021–2025.