FaktaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Menjaga Asa di Surga Bahari, Dedikasi Mantri BRI untuk Masyarakat Wakatobi

Published Agustus 9, 2026 · Updated Agustus 9, 2026 · By Nancy Jones - faktanaya.com

Foto : Nancy Jones - faktanaya.com

Menjaga Asa di Surga Bahari, Dedikasi Mantri BRI untuk Masyarakat Wakatobi

Perjalanan Melintasi Lautan

Faktanaya.com – Di tengah gempuran ombak setinggi empat meter, enam orang penumpang menaiki perahu kecil bermesin milik suku Bajo. Tiga perempuan dan tiga laki-laki itu berusaha keras menyeberangi lautan yang sedang mengamuk. Cuaca mendadak gelap, tidak ada kapal reguler yang berani melaju. Namun, karena komitmen terhadap nasabah, Titin memutuskan mencari alternatif perjalanan. Mereka akhirnya menyewa "body batang" untuk kembali ke daratan.

Perjalanan yang seharusnya singkat berubah menjadi hampir tiga jam. Mereka tiba di Wangi-Wangi menjelang waktu magrib dengan pakaian basah kuyup. Kelelahan menyelimuti tubuh, namun rasa syukur tetap ada karena keselamatan telah diberikan. Pengalaman ini menjadi pengingat kuat bagi Titin bahwa profesinya bukan sekadar urusan angka, melainkan juga mempertaruhkan nyawa demi melayani masyarakat.

Mantri BRI di Ujung Tombak Inklusi Keuangan

Wakatobi dikenal dunia sebagai surga bawah laut. Namun, di balik keindahan itu tersimpan kisah perjuangan para pekerja yang memastikan roda ekonomi terus berputar. Salah satunya adalah Wa Ode Sitti Rahmatiah Jufri, atau yang akrab dipanggil Titin. Ia menjabat sebagai Mantri BRI dari Unit Wangi-Wangi, Kantor Cabang BRI Baubau.

Sejak dimutasi pada Januari 2024, Titin menghadapi tantangan baru. Wilayah kerjanya bukan hanya daratan biasa, melainkan sembilan desa di Pulau Kaledupa. Untuk menjangkau setiap desa, ia harus menyeberangi lautan lepas dari ibu kota kabupaten, Wangi-Wangi.

Perjalanan rutin Titin dari kantor menuju Kaledupa adalah sebuah narasi tentang keberanian. Dalam kondisi cuaca normal, menggunakan kapal fiber atau speedboat membutuhkan waktu sekitar satu jam empat puluh menit. Namun, ketika alam tidak bersahabat, perjalanan itu bisa melampaui dua jam di tengah gempuran ombak.

"Salah satu pengalaman yang paling melekat dalam ingatan saya adalah saat ia harus menyeberang pada musim ombak besar sekitar bulan Januari atau Februari. Saat itu, cuaca mendadak gelap dan tidak ada satu pun kapal reguler yang berani mengambil risiko untuk menyeberang. Namun, karena komitmen saya terhadap nasabah, saya harus mencari cara lain untuk pulang. Akhirnya, kami menyewa 'body batang' (perahu kecil bermesin) milik suku Bajo," kenang Titin.

"Lailahaillallah, itu kalau kita sudah di atas ombak, kita lihat ke bawah itu tinggi sekali. Kita dikasih naik, lalu turun lagi ke bawah, dan sekeliling kita itu cuma ada air," tuturnya menggambarkan situasi mencekam tersebut.

Bersama lima orang lainnya, total mereka berjumlah enam orang yang terdiri dari tiga perempuan dan tiga laki-laki. Mereka memaksakan diri menembus lautan yang sedang mengamuk. Di tengah laut, mereka berhadapan dengan dinding air setinggi empat meter.

Pengalaman ini menjadi pengingat bagi Titin bahwa profesinya bukan sekadar tentang angka, tetapi juga tentang mempertaruhkan nyawa demi melayani masyarakat.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Menjaga Asa di Surga Bahari Dedikasi?

Menjaga Asa di Surga Bahari Dedikasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menjaga Asa di Surga Bahari Dedikasi matter?

Menjaga Asa di Surga Bahari Dedikasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.