Suahasil Pamer Penerimaan Bea Cukai Capai Rp210,2 Triliun: Tumbuh 7,8%, Ini Sangat Baik
Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Tembus Rp210,2 Triliun hingga Agustus 2026
Faktanaya.com – Kementerian Keuangan membukukan penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp210,2 triliun sampai 31 Agustus 2026. Nilai tersebut meningkat 7,8 persen secara tahunan dibandingkan capaian Rp194,9 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai pertumbuhan tersebut mencerminkan hasil yang positif di tengah berbagai dinamika perdagangan, produksi, serta pengawasan barang kena cukai. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers APBN KiTa edisi September 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 18 September 2026.
“Kalau pertumbuhan 7,8 persen, ini menurut saya adalah kinerja yang sangat baik,” kata Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
Kenaikan penerimaan tidak hanya berasal dari satu sumber. Cukai, bea masuk, dan bea keluar sama-sama mencatat pertumbuhan. Kondisi ini menunjukkan kontribusi dari aktivitas industri dalam negeri, arus impor, hingga perkembangan ekspor komoditas.
Cukai Tetap Menjadi Penyumbang Terbesar
Penerimaan cukai hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp148,7 triliun. Angka itu naik 3,2 persen dari Rp144 triliun pada Agustus 2025. Posisi cukai tetap menjadi komponen paling besar dalam total penerimaan kepabeanan dan cukai.
Peningkatan tersebut ditopang oleh langkah penegakan hukum serta bertambahnya produksi rokok dan Minuman Mengandung Etil Alkohol atau MMEA. Pengawasan terhadap barang kena cukai memiliki peran penting karena peredaran produk ilegal dapat mengurangi penerimaan negara sekaligus menciptakan persaingan yang tidak setara bagi pelaku usaha resmi.
Aktivitas pengawasan juga berkaitan dengan perlindungan masyarakat. Produk ilegal umumnya beredar di luar ketentuan yang berlaku, sehingga pengendalian atas distribusinya menjadi bagian dari tugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Bea Masuk dan Bea Keluar Tumbuh Lebih Cepat
Penerimaan bea masuk mencapai Rp36,4 triliun, naik 13 persen dari Rp32,2 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini dipengaruhi kenaikan volume barang impor serta pergerakan nilai tukar.
Bea masuk dikenakan atas barang yang masuk dari luar negeri. Karena itu, perubahan volume impor dan kurs dapat memengaruhi nilai pungutan yang diterima negara. Saat nilai impor meningkat atau nilai tukar berubah, basis perhitungan penerimaan bea masuk juga dapat bergerak.
Pertumbuhan tertinggi tercatat pada bea keluar. Penerimaannya melonjak 34,4 persen menjadi Rp25,1 triliun, dari Rp18,7 triliun pada Agustus 2025. Kenaikan harga dan volume ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi faktor utama di balik peningkatan tersebut.
Perkembangan ini memperlihatkan besarnya pengaruh komoditas ekspor terhadap penerimaan negara. Ketika harga dan pengiriman CPO meningkat, penerimaan bea keluar ikut terdorong. Namun, angka tersebut juga menggambarkan bahwa penerimaan dari sektor perdagangan dapat dipengaruhi kondisi pasar serta volume transaksi lintas negara.
Penindakan Rokok Ilegal Meningkat
Selain menghimpun penerimaan, DJBC terus memperketat tindakan terhadap barang ilegal. Hingga Agustus 2026, penindakan rokok ilegal dilakukan sebanyak 13.151 kali. Jumlah itu bertambah 9,8 persen dibandingkan 11.979 kali pada periode yang sama setahun sebelumnya.
Dari seluruh operasi tersebut, pemerintah mengamankan sekitar 1,1 miliar batang rokok ilegal. Jumlahnya meningkat 60,2 persen secara tahunan dari sekitar 702 juta batang. Kenaikan jumlah barang yang diamankan menunjukkan skala pengawasan yang tetap besar pada peredaran rokok tanpa pemenuhan kewajiban cukai.
Salah satu hasil penindakan mencakup pengamanan 8,96 juta batang rokok di Tanjung Priok, Jakarta. Sementara itu, penerapan ultimum remedium menghasilkan Rp94,3 miliar. Mekanisme ini merupakan salah satu pendekatan penegakan hukum yang dapat digunakan dalam penanganan pelanggaran tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.
Penindakan rokok ilegal menjadi penting bagi penerimaan negara karena cukai merupakan instrumen fiskal yang melekat pada produk tersebut. Pengawasan yang konsisten juga membantu menjaga kepatuhan produsen dan distributor di pasar resmi.
Barang Bukti Narkotika Bertambah Meski Frekuensi Penindakan Turun
Pada penanganan narkotika, jumlah penindakan hingga Agustus 2026 tercatat 1.117 kali. Angka ini turun 7,9 persen dibandingkan 1.213 tindakan pada periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Walau frekuensinya berkurang, total barang bukti yang berhasil diamankan justru naik 11,2 persen. Volume narkotika yang disita mencapai 11,43 ton, meningkat dari 10,28 ton pada tahun sebelumnya. Salah satu pengungkapan mencakup sekitar 2,6 ton methamphetamine cair dari Kapal MV Ocean Porter di Kepulauan Riau.
Perbedaan antara jumlah penindakan dan berat barang bukti memperlihatkan bahwa ukuran setiap kasus dapat bervariasi. Satu operasi dapat menghasilkan barang bukti dalam jumlah yang jauh lebih besar dibanding operasi lainnya.
Pengawasan Emas dan Perhiasan Terus Berjalan
Pengawasan juga menyasar emas serta perhiasan emas. Hingga 14 September 2026, tercatat 74 kali penindakan dengan total barang bukti sekitar 334,5 kilogram.
Barang yang diamankan terdiri atas 120,2 kilogram emas batangan, 208,6 kilogram perhiasan emas, dan 5,7 kilogram serbuk emas. Penanganan terhadap komoditas bernilai tinggi ini menjadi bagian dari pengawasan kepabeanan atas lalu lintas barang lintas batas.
Secara keseluruhan, penerimaan Rp210,2 triliun hingga Agustus memperlihatkan pertumbuhan pada seluruh komponen utama kepabeanan dan cukai. Bersamaan dengan itu, data penindakan menunjukkan bahwa fungsi penerimaan negara berjalan beriringan dengan pengawasan terhadap rokok ilegal, narkotika, emas, dan perhiasan emas.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Suahasil Pamer Penerimaan Bea Cukai Capai?Suahasil Pamer Penerimaan Bea Cukai Capai is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Suahasil Pamer Penerimaan Bea Cukai Capai matter?Suahasil Pamer Penerimaan Bea Cukai Capai matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.