FaktaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Jelang Muktamar, Aktivis NU Bongkar Kriteria Sosok yang Layak Pimpin PBNU

Published Agustus 13, 2026 · Updated Agustus 13, 2026 · By Sarah Johnson - faktanaya.com

Foto : Sarah Johnson - faktanaya.com

Kriteria Kepemimpinan PBNU di Hadapan Muktamar 2026

Faktanaya.com – Jakarta – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 30 Agustus 2026 mendatang. Acara akbar tersebut akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Tambakberas, Jawa Timur. Dalam menyongsong gelaran tersebut, berbagai tokoh dan aktivis dari organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menyerukan terciptanya kepemimpinan yang memiliki integritas tinggi, independen, serta mampu memperkuat kontribusi organisasi bagi kepentingan bangsa.

Upaya ini dinilai krusial agar NU tetap konsisten menjalankan peran strategisnya di tengah dinamika nasional yang terus berubah. Selain itu, langkah ini juga bertujuan membangun komunikasi yang lebih konstruktif dengan pemerintah.

Visi Hatim Gazali: Pemimpin yang Dapat Diterima Semua Pihak

Aktivis muda NU, Hatim Gazali, menyampaikan bahwa organisasi ini masih memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam pembangunan nasional. Caranya adalah dengan memberikan masukan secara konstruktif yang berlandaskan pada kepentingan masyarakat luas.

Menurut Hatim, calon pemimpin PBNU harus memenuhi beberapa kriteria penting. Pertama, harus dapat diterima oleh berbagai kelompok masyarakat. Kedua, bebas dari afiliasi partai politik. Ketiga, tidak sedang memegang jabatan publik. Keempat, memiliki akar yang kuat dari tradisi pesantren.

Hatim juga mendorong munculnya kepemimpinan muda yang mampu menjawab tantangan generasi saat ini. Ia menjelaskan:

Muda bukan hanya dalam pengertian umur, tetapi secara substansi mampu memahami dan mendalami dinamika generasi muda.

Inayah Wahid: Independensi untuk Menjaga Marwah NU

Sementara itu, Inayah Wulandari Wahid, Sekretaris Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, menekankan bahwa independensi sangat penting untuk menjaga marwah NU sekaligus memperkuat perannya dalam kehidupan kebangsaan.

Inayah menegaskan bahwa NU bukanlah organisasi yang antipolitik. Namun, organisasi ini harus mampu membedakan secara tegas antara politik kebangsaan dan politik praktis yang bertujuan mengejar kekuasaan. Ia menambahkan:

Posisi NU harus berdiri bersama rakyat, bukan menjadi arena pertarungan kepentingan.

Menurut Inayah, Muktamar ke-35 harus menjadi momentum untuk memilih figur dengan rekam jejak yang baik, memiliki akar pesantren, serta mampu memperkuat organisasi dalam menghadapi berbagai persoalan nasional dan global.

Wulan: Integritas dan Transparansi Organisasi

Ketua Umum KOPRI PB PMII, Wulansari Aliyatul Solikhah atau yang dikenal dengan Wulan, menilai bahwa independensi NU juga harus diperkuat melalui sistem organisasi yang transparan dan solid.

Wulan menjelaskan bahwa integritas merupakan syarat utama. Ketika seorang pemimpin dihadapkan pada berbagai benturan kepentingan, integritas itulah yang menjadi karakter organisasi. Ia menambahkan:

NU itu jauh lebih besar daripada sekadar popularitas calon Ketua Umum.

Selain penguatan tata kelola, Wulan dan Inayah juga mendorong keterlibatan perempuan yang lebih luas dalam pengambilan keputusan strategis di tubuh PBNU.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Jelang Muktamar Aktivis NU Bongkar Kriteria?

Jelang Muktamar Aktivis NU Bongkar Kriteria is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Jelang Muktamar Aktivis NU Bongkar Kriteria matter?

Jelang Muktamar Aktivis NU Bongkar Kriteria matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.