FaktaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Sinyorita Ungkap Duka Keguguran Anak Kedua, Sempat Salahkan Diri Sendiri hingga Berusaha Ikhlas

Published September 28, 2026 · Updated September 28, 2026 · By Daniel Taylor - faktanaya.com

Foto : Daniel Taylor - faktanaya.com

Sinyorita Ungkap Duka Keguguran Anak Kedua

Faktanaya.com – Sinyorita ungkap duka keguguran anak kedua yang begitu dinantikan melalui program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Kehamilan tersebut tidak dapat dipertahankan ketika usia kandungannya memasuki sekitar enam hingga tujuh minggu. Di balik kebahagiaan yang sempat dirasakan, ia harus menghadapi kehilangan yang datang secara tiba-tiba.

Artis yang akrab disapa Sinyo itu sebelumnya membagikan momen bersama keluarganya. Unggahan tersebut ternyata menyimpan dua emosi yang hadir dalam waktu hampir bersamaan, yakni rasa bahagia karena mendapat kabar kehamilan serta kesedihan setelah calon buah hati itu tidak lagi ada.

“Cuman memang qodarullah kemarin itu sudah enggak ada calon baby-nya. Jadi ya udah, aku posting bahwa kebahagiaan dan kesedihan itu bisa langsung jadi satu dan berlangsung kayak menjentikkan jari aja gitu.”

Awalnya, Sinyorita tidak ingin terburu-buru memberitahukan kehamilan itu kepada publik. Ia berniat menunggu sampai kandungannya lebih matang. Namun, keadaan berjalan di luar harapan dan kabar bahagia tersebut berubah menjadi masa duka yang berat bagi dirinya serta keluarga.

Kehamilan Kedua Lewat Embrio Beku

Kehamilan kedua Sinyorita diperoleh lewat prosedur IVF menggunakan embrio beku yang kemudian dipindahkan ke rahim. Proses ini berbeda dengan program bayi tabung yang pernah dijalaninya pada 2021. Setelah transfer embrio, ia sempat mendapat hasil pemeriksaan yang membuatnya merasa lega dan optimistis.

Harapan untuk menambah anggota keluarga pun tumbuh. Namun, beberapa hari sesudah pemeriksaan, tubuhnya mulai mengalami perubahan. Sinyorita merasakan demam dan flek. Ia sempat menganggap kondisi tersebut mungkin berkaitan dengan masa awal kehamilan, sebelum rasa sakit yang kuat muncul pada Selasa malam.

Karena keluhan itu, ia kembali menjalani pemeriksaan ultrasonografi atau USG. Dari pemeriksaan tersebut, dokter menyampaikan bahwa kantung kehamilan sudah tidak terlihat di dalam rahim. Kabar itu membuat Sinyorita sangat terpukul karena ia baru saja merasakan kebahagiaan atas kehamilan tersebut.

“Itu udah kayak disamber petir ya…,” kata Sinyo.

Sinyorita ungkap duka keguguran anak kedua ini dengan terbuka, termasuk tentang perubahan emosi yang ia rasakan. Pengalaman itu menggambarkan betapa besar harapan yang dapat tumbuh dalam perjalanan IVF, sekaligus betapa dalam kesedihan ketika kehamilan harus berhenti di tengah jalan.

Sempat Menyalahkan Diri Sendiri

Selain menghadapi kondisi fisik, Sinyorita mengaku menjalani tekanan emosional yang tidak ringan. Ia menangis, merasa stres, dan sempat mempertanyakan penyebab kehilangan tersebut. Dalam masa berkabung itu, muncul pula rasa bersalah terhadap diri sendiri meski ia merasa telah berusaha menjaga kehamilannya sebaik mungkin.

“Iya pasti, self-blame. Terus aku suka bilang, ‘Ini kok Allah marah sama aku ya?’ gitu. Kayak, ‘Kok aku lagi baru disenengin, tiba-tiba dikasih sedih,’ gitu,” ujar Sinyorita.

Rasa menyalahkan diri sendiri kerap muncul ketika seseorang menghadapi kehilangan yang tidak diharapkan. Namun, Sinyorita perlahan mencoba memahami bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Ia menyadari telah berusaha menjalani proses kehamilan tersebut dengan penuh perhatian dan kini berupaya menerima kenyataan yang terjadi.

Bagi Sinyorita, ikhlas bukan berarti kesedihan langsung hilang. Proses menerima kehilangan membutuhkan waktu, ruang, serta dukungan dari pasangan, keluarga, dan orang-orang terdekat. Ia memilih menjalani hari-harinya secara perlahan sambil memulihkan perasaan setelah kehilangan calon anak keduanya.

Dukungan untuk Perempuan yang Mengalami Keguguran

Kisah ketika Sinyorita ungkap duka keguguran anak kedua menjadi pengingat bahwa kehilangan kehamilan adalah pengalaman yang sangat pribadi. Seseorang yang mengalaminya tidak selalu membutuhkan nasihat cepat untuk segera kuat. Kehadiran yang tulus, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberi kesempatan untuk berduka dapat menjadi dukungan yang lebih berarti.

Kehamilan melalui IVF juga dapat membawa harapan besar bagi pasangan yang menantikan buah hati. Karena itu, ketika kehamilan berhenti, duka yang dirasakan tetap layak dihormati. Tidak ada batas waktu yang sama bagi setiap orang untuk kembali merasa tenang setelah mengalami kehilangan.

Sinyorita memilih berbagi dengan jujur mengenai kebahagiaan yang sempat datang dan kesedihan yang kemudian menyusul. Dengan tetap memegang keyakinannya, ia berusaha menerima bahwa ada hal yang dapat diupayakan manusia, tetapi ada pula hasil yang berada di luar kendali.

FAQ tentang Keguguran dan Dukungan Emosional

Bagaimana cara mendukung orang yang mengalami keguguran? Dengarkan perasaannya, hindari menyalahkan atau membandingkan pengalamannya dengan orang lain, serta tawarkan bantuan sederhana sesuai kebutuhannya. Kehadiran dan empati sering kali lebih dibutuhkan daripada nasihat.

Apakah wajar merasa sedih atau bersalah setelah keguguran? Perasaan sedih, kaget, marah, maupun menyalahkan diri sendiri dapat muncul dalam proses duka. Bila perasaan tersebut terasa sangat berat atau terus mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang terdekat atau tenaga profesional dapat membantu.

Mengapa proses menerima kehilangan membutuhkan waktu? Setiap orang memiliki pengalaman, harapan, dan kondisi emosional yang berbeda. Karena itu, tidak ada ukuran pasti mengenai kapan seseorang harus merasa pulih setelah kehilangan kehamilan.

Related Reading