Nasional

7 Hari Berjibaku Padamkan Karhutla di Penajam Paser Utara, Sumber Air Mulai Jadi Masalah Besar

6a8d09c79438e-ilustrasi-karhutla_gemini_1265_711

Karhutla Gambut di Petung Masih Ditangani, Tantangan Air Kian Mendesak

Faktanaya.com – Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah RT 16, Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, terus berlangsung hingga hari ketujuh. Api memang belum sepenuhnya terlihat di seluruh area, tetapi kemunculan asap dari tanah gambut membuat tim gabungan tetap melakukan pemadaman dan pendinginan secara intensif.

Kondisi lahan gambut membutuhkan penanganan yang teliti. Asap yang muncul dari bawah permukaan dapat menjadi tanda bahwa bara masih tersimpan di dalam tanah. Jika tidak segera dibasahi dan didinginkan, bara tersebut berisiko kembali memunculkan api, terutama pada bagian lahan yang sulit dijangkau petugas.

Pemantauan dari udara dengan drone menemukan sejumlah titik asap di kawasan terdampak. Temuan itu menjadi dasar bagi tim di lapangan untuk terus mengejar lokasi-lokasi yang masih mengeluarkan asap, meski posisi titik tersebut tidak selalu mudah dicapai melalui jalur darat.

“Penanganan masih dilakukan karena hasil pemantauan udara menunjukkan sejumlah titik asap gambut yang berpotensi kembali menjadi titik api,” ujar Nurlaila di Penajam, Minggu (4/10/26).

Selang Panjang dan Medan Sulit Memperlambat Pemadaman

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten PPU Nurlaila menjelaskan bahwa medan menjadi salah satu hambatan utama. Banyak titik asap berada cukup jauh dari sumber air yang masih dapat dimanfaatkan. Petugas harus menarik selang sepanjang sekitar 25 hingga 30 sambungan agar semprotan air bisa menjangkau area yang terbakar.

Kebutuhan air tidak hanya digunakan secara langsung untuk menyemprot lahan. Sekitar lima sampai enam sambungan selang juga diperlukan untuk mengisi fleksibel tank. Situasi ini menambah beban kerja personel dan membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang.

Pada hari ketujuh penanganan, tujuh mata semprot dioperasikan secara bersamaan. Empat mata semprot berasal dari BPBD, satu unit dari Dinas Pertanian, sementara dua lainnya digunakan oleh Manggala Agni. Seluruh peralatan itu dipakai untuk menjaga agar bagian gambut yang telah dipadamkan tidak kembali menyala.

Pemadaman di lahan gambut tidak berhenti setelah api di permukaan padam. Pendinginan menjadi tahap penting karena panas dapat bertahan di bawah tanah. Petugas perlu memastikan area yang mengeluarkan asap memperoleh cukup air, khususnya di titik-titik yang berpotensi menjadi sumber api baru.

Lahan Terbakar Mencapai 36,88 Hektare

Luas kawasan yang terdampak kebakaran di lokasi tersebut tercatat mencapai 36,88 hektare. Penanganan lapangan melibatkan total 75 personel dari sejumlah unsur. Keterlibatan lintas instansi diperlukan untuk mempercepat penyemprotan, penarikan selang, pengisian tangki air, serta pemantauan titik asap.

Personel yang bertugas terdiri atas 30 anggota BPBD, 15 petugas Dinas Pertanian, lima personel Manggala Agni, 12 anggota Satpol PP, dan 13 personel Direktorat Samapta Polres PPU. Kehadiran personel dari berbagai unsur memungkinkan pekerjaan di lapangan dibagi sesuai kebutuhan, terutama ketika akses menuju titik asap membutuhkan tenaga tambahan.

“Pemadaman dan pendinginan seluruhnya menggunakan mesin portable dan slip on dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di lokasi,” ujarnya.

Mesin portable dan peralatan slip on menjadi andalan karena dapat digunakan untuk mengalirkan air menuju area yang tidak dekat dengan saluran. Namun, kemampuan peralatan tersebut tetap bergantung pada ketersediaan sumber air yang dapat dipompa secara berkelanjutan.

Saluran Sekunder Mengering

Persoalan air kini menjadi perhatian besar dalam operasi pemadaman. Saluran sekunder yang sebelumnya masih bisa digunakan petugas telah mengering. Dengan kondisi itu, tim harus mengandalkan saluran primer untuk memenuhi kebutuhan air selama proses penyemprotan dan pendinginan.

Terbatasnya pilihan sumber air membuat pengaturan penggunaan air menjadi semakin penting. Jarak antara saluran primer dan titik asap yang tersebar di lahan gambut menuntut penarikan selang lebih jauh, sekaligus memperbesar kebutuhan tenaga untuk menjaga aliran air tetap berjalan.

Dalam operasi seperti ini, sumber air yang tersedia bukan hanya menentukan kecepatan pemadaman, tetapi juga menentukan kemampuan tim melakukan pendinginan berulang. Titik yang terlihat sudah aman tetap perlu diperiksa kembali dari udara dan dari darat untuk memastikan tidak ada asap baru yang muncul.

Dukungan juga datang dari PT KMS, yang menyiagakan mesin portable berkapasitas besar di kawasan perbatasan lokasi kebakaran. Peralatan tersebut disiapkan untuk membantu memperkuat pasokan air bagi petugas yang bekerja di area terdampak.

“Selain itu, PT KMS turut mendukung penanganan dengan menyiagakan mesin portable berkapasitas besar di kawasan perbatasan lokasi kebakaran,” kata Nurlaila lagi.

Fokus penanganan saat ini tetap diarahkan pada pemadaman menyeluruh dan pencegahan kemunculan api kembali. Selama titik asap masih terdeteksi di lahan gambut, pekerjaan tim gabungan belum dapat dianggap selesai. Pemantauan drone, pengoperasian mesin pompa, dan pendinginan di titik-titik rawan terus menjadi bagian dari upaya menjaga kebakaran tidak meluas.

Frequently Asked Questions

What is 7 Hari Berjibaku Padamkan Karhutla di Penajam?

7 Hari Berjibaku Padamkan Karhutla di Penajam is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does 7 Hari Berjibaku Padamkan Karhutla di Penajam matter?

7 Hari Berjibaku Padamkan Karhutla di Penajam matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *