Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Nasional

Facing Challenges: Viral Aksi ‘Boti Hunter’ Tolak LGBT, Tuai Beragam Respons Netizen

Betty Smith - faktanaya.com 3 mins baca

: Beragam Respons Netizen Facing Challenges - Menyambut tantangan keberagaman, aksi konvoi oleh sekelompok pemuda dengan slogan "Boti Hunter" dan "Lindas

Facing Challenges: Viral Aksi ‘Boti Hunter’ Tolak LGBT, Tuai Beragam Respons Netizen

Viral Aksi Boti Hunter Tolak LGBT: Beragam Respons Netizen

Facing Challenges – Menyambut tantangan keberagaman, aksi konvoi oleh sekelompok pemuda dengan slogan “Boti Hunter” dan “Lindas Boti” mencuri perhatian publik di media sosial. Video yang diunggah oleh akun Instagram @robbytanziilal_ memperlihatkan peserta aksi bersepeda sambil membawa spanduk bertuliskan penolakan terhadap komunitas LGBTQ+ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, dan Queer). Aksi ini memicu perdebatan luas, menunjukkan polarisasi pandangan terhadap isu orientasi seksual di masyarakat.

Bakal Membentuk Perubahan?

Aksi “Boti Hunter” ini berlangsung di tengah meningkatnya perhatian terhadap keberagaman orientasi seksual, yang dianggap sebagai tantangan terhadap nilai-nilai tradisional. Peserta aksi menyatakan kegelisahan atas fenomena “boti” (kata yang sering digunakan untuk menyebut orientasi seksual non- heteroseksual) yang menurut mereka merusak keharmonisan sosial. Seorang peserta mengatakan, “

Boti itu bahaya. Kita harus melindungi generasi muda dari pengaruh negatif.

Unggahan video ini secara cepat menyebar ke berbagai platform daring, menarik perhatian ribuan netizen. Sebagian menganggap aksi ini sebagai bentuk perlawanan terhadap arus globalisasi, sementara yang lain menilai tindakan itu terlalu ekstrem. Aksi tersebut juga memicu diskusi mengenai peran media sosial dalam memperkuat atau merusak kesadaran masyarakat tentang isu gender dan seksualitas.

Respons yang Beragam

Perdebatan di media sosial terus memanas. Banyak netizen mendukung aksi “Boti Hunter” dengan menyebutnya sebagai upaya menjaga tradisi dan nilai-nilai keagamaan. Seorang pengguna media sosial menulis, “

Kita harus benci penyimpangannya. Boti adalah bentuk penyimpangan terhadap kodrat manusia.

Tak kalah kuat, kelompok lain menentang tindakan tersebut dengan menyebutnya sebagai bentuk diskriminasi. Mereka mengkritik aksi ini sebagai upaya menghancurkan identitas pribadi dan mengabaikan hak asasi manusia. Beberapa netizen bahkan membandingkan Boti Hunter dengan gerakan anti-LGBT lainnya, menyebut bahwa aksi ini bagian dari momentum yang sedang terjadi di masyarakat.

Pihak berwenang masih memperjelas lokasi dan waktu tepat aksi tersebut, meski peristiwa ini sudah dianggap sebagai bagian dari dinamika sosial terkini. Namun, salah satu isu yang menarik adalah bagaimana gerakan ini bisa viral dalam waktu singkat, menggambarkan pengaruh media sosial dalam menyebarluaskan pandangan tertentu.

Peran MUI dalam Menghadapi Isu

Kelompok konservatif seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut merespons aksi Boti Hunter. Pada Juni 2026, MUI mengeluarkan pernyataan yang menyerukan hukuman lebih berat bagi pelaku dan pengkampanye keberadaan LGBTQ+. Ini dilakukan dalam rangka menindak penyimpangan seksual, yang dianggap sebagai dua dosa besar: tindakan asusila dan penyimpangan kodrat manusia.

“Menurut saya, hukuman untuk pelaku penyimpangan seksual ini harus lebih berat daripada hukuman perzinaan. Karena ada dua kesalahan: kesalahan pertama adalah melakukan tindakan asusila, yang kedua adalah melakukan penyimpangan karena sesama jenis itu,” kata Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, dalam pernyataan resmi.

Pernyataan ini memperkuat kesan bahwa MUI berperan aktif dalam menghadapi isu orientasi seksual, khususnya di tengah munculnya gerakan seperti Boti Hunter.

Di sisi lain, para aktivis LGBTQ+ menyebut aksi ini sebagai bentuk penguasaan opini melalui media sosial. Mereka menilai bahwa gerakan Boti Hunter muncul sebagai respons terhadap peningkatan keberagaman di masyarakat, yang dianggap melanggar norma tradisional. “Aksi ini bagian dari Fenomena keberagaman yang terus berkembang, menurut saya, menghadapi tantangan ini membutuhkan dialog yang lebih dalam,” kata seorang aktivis dalam wawancara terpisah.

Ikut berdiskusi