Key Discussion: Momen Prabowo Bertemu 3 Eks PM Thailand, Ini yang Dibahas
Pertemuan Prabowo dengan Tiga Mantan Perdana Menteri Thailand Puncak Diskusi Kemitraan Ekonomi dan Diplomasi Key Discussion – Jakarta, VIVA – Presiden Prabowo
Pertemuan Prabowo dengan Tiga Mantan Perdana Menteri Thailand Puncak Diskusi Kemitraan Ekonomi dan Diplomasi
Key Discussion – Jakarta, VIVA – Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan strategis dengan tiga mantan Perdana Menteri Thailand pada hari Kamis, 8 Juli 2026, di Wisma Danantara. Momen ini menjadi key discussion utama dalam upaya memperkuat kerja sama antar-negara, terutama di bidang ekonomi, serta menjembatani hubungan diplomatik yang berkelanjutan. Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, seperti Rosan Perkasa Roeslani (CEO), Pandu Sjahrir (CIO), dan Dony Oskaria (COO) dari Danantara, serta para mantan kepala pemerintahan Thailand yang kini menjadi pengusaha dan aktivis.
Profil dan Peran Ketiga Mantan Perdana Menteri Thailand dalam Diskusi
Tiga mantan PM Thailand yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Thaksin Shinawatra (2001–2006), Yingluck Shinawatra (2011–2014), dan Paetongtarn Shinawatra (2024–2025). Mereka dikenal sebagai tokoh politik yang berpengaruh dan memiliki pengalaman unik dalam mengelola pemerintahan Thailand. Thaksin, yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Penasihat, terkenal karena kebijakan pro-rakyatnya dan keterlibatannya dalam reformasi ekonomi. Yingluck, adik perempuan Thaksin, menjadi PM pertama perempuan sepanjang sejarah Thailand, sementara Paetongtarn, putri bungsu Thaksin, menyabet gelar PM termuda dalam sejarah negara tersebut.
“Kebijakan yang diambil oleh ketiga mantan PM ini mencerminkan visi pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Prabowo memperhatikan secara intens bagaimana mereka mampu menghadapi tantangan politik dan ekonomi di masa lalu,” ujar Seskab Teddy Indra Wijaya dalam key discussion tersebut.
Dalam key discussion yang berlangsung, Prabowo dan ketiga mantan PM Thailand membahas berbagai isu kritis, termasuk potensi kerja sama investasi, peran perusahaan-perusahaan asing dalam pengembangan infrastruktur, serta strategi menghadapi perubahan global di bidang ekonomi. Thaksin, yang memiliki pengalaman panjang dalam perusahaan-perusahaan multinasional, memberikan panduan tentang cara menerapkan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi melalui keterlibatan swasta.
Kebijakan ekonomi Thailand yang digagas oleh ketiga mantan PM ini menjadi key discussion utama. Misalnya, Thaksin menyebutkan bahwa pengembangan sektor pertanian dan energi terbarukan merupakan bidang yang paling potensial untuk kolaborasi dengan Indonesia. Yingluck, yang dikenal sebagai pendukung reformasi korupsi, berpendapat bahwa transparansi dalam pengelolaan dana publik bisa menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan bersama. Sementara Paetongtarn, yang memimpin Thailand saat krisis geopolitik, menekankan pentingnya kerja sama dalam menghadapi perubahan iklim dan ketidakstabilan pasar internasional.
Jejak Sejarah dan Kebijakan yang Dianggap Kunci dalam Diskusi
Pertemuan di Wisma Danantara bukan hanya sekadar pertemuan formal, tetapi juga key discussion yang menggali pengalaman sejarah dan kebijakan pemerintahan Thailand di masa lalu. Thaksin, yang pernah mendirikan perusahaan-perusahaan besar seperti Thai PBS dan The Nation, menjelaskan bahwa kepemimpinannya berfokus pada peningkatan daya beli masyarakat dan pengurangan ketergantungan pada ekspor komoditas. “Kita bisa belajar dari kegagalan dan keberhasilan masa lalu untuk membangun fondasi yang lebih kuat ke depan,” kata Thaksin dalam sesi key discussion tersebut.
Yingluck, yang mewakili generasi perempuan dalam pemerintahan, membahas peran perempuan dalam perekonomian nasional. “Kita perlu memastikan bahwa kebijakan pemerintah mengakomodasi kebutuhan segala kalangan, termasuk kelompok masyarakat yang lebih rentan,” ujarnya. Sementara Paetongtarn, yang telah memimpin pemerintahan Thailand pada masa krisis, menekankan pentingnya koordinasi antar-negara dalam menghadapi perubahan iklim dan isu-isu global lainnya.
Sebagai bagian dari key discussion, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia terbuka terhadap investasi asing, terutama dari negara-negara tetangga. “Kita bisa saling melengkapi, baik dalam pertukaran teknologi maupun penguasaan sumber daya alam,” ujarnya. Diskusi ini berlangsung dalam suasana yang hangat dan akrab, mencerminkan persahabatan yang telah terjalin sejak lama antara tokoh-tokoh kedua negara.