Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Nasional

Penemuan Kerangka dalam Gedung Terbakar di Kwitang – Ahli Forensik dr Sumy Hastry Uraikan Proses Identifikasi Korban

Elizabeth Thomas - faktanaya.com 3 mins baca

Penemuan Kerangka dalam Gedung Terbakar di Kwitang dan Proses Identifikasi Korban oleh Dr.

Penemuan Kerangka dalam Gedung Terbakar di Kwitang – Ahli Forensik dr Sumy Hastry Uraikan Proses Identifikasi Korban

Penemuan Kerangka dalam Gedung Terbakar di Kwitang dan Proses Identifikasi Korban oleh Dr. Sumy Hastry

Penemuan Kerangka dalam Gedung Terbakar di Kwitang – Kebakaran yang terjadi di Gedung Astra Credit Companies (ACC) Kwitang, Jakarta Pusat, menjadi sorotan publik setelah dua kerangka manusia ditemukan dalam kondisi terbakar. Kebakaran ini terjadi dua bulan setelah aksi demonstrasi besar yang memicu kericuhan di sejumlah titik, termasuk depan Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Kwitang. Proses identifikasi korban yang menjadi fokus utama penelitian ahli forensik Brigjen Pol Dr. dr Sumy Hastry Purwanti, seorang polwan berpengalaman, dinilai krusial untuk mengungkap identitas dua orang yang hilang dalam kejadian tersebut.

Kebakaran di Kwitang terjadi setelah aksi demonstrasi yang berlangsung pada akhir Agustus 2025. Tindakan kericuhan yang memuncak di sekitar Senen, Jakarta Pusat, melibatkan pembakaran kendaraan dan bangunan. Dalam kejadian tersebut, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan menjadi korban meninggal akibat terlindas kendaraan taktis polisi. Meski kejadian itu tidak langsung terkait dengan kebakaran di ACC, namun kejadian tersebut memicu kecurigaan bahwa beberapa korban mungkin terkait dengan peristiwa tersebut.

Identifikasi Korban Berdasarkan Data Antemortem dan Teknologi Forensik

Ahli forensik Dr. Sumy Hastry Purwanti menjelaskan bahwa tim kepolisian telah mengumpulkan data Antemortem sebelumnya. Data ini mencakup informasi fisik korban, seperti usia, ciri khas, dan benda-benda yang dikenakan pada saat kejadian. Dengan data tersebut, tim dapat membandingkan dengan jenazah yang ditemukan dalam kondisi terbakar di Kwitang. Proses ini membutuhkan kehati-hatian, karena kondisi jenazah yang rusak bisa mengganggu akurasi identifikasi.

Meski sidik jari sulit diperiksa akibat dampak panas, Dr. Sumy menyebut bahwa DNA tetap menjadi alat utama dalam memastikan identitas korban. “Untuk identifikasi primer, terutama jika jenazah tidak dalam kondisi baik, kita memakai DNA sebagai bukti terkuat,” katanya. Teknologi ini memungkinkan tim untuk membandingkan DNA dari jenazah dengan data sampel yang telah dikumpulkan sebelumnya, seperti sampel darah atau rambut dari keluarga korban.

Proses identifikasi juga melibatkan analisis ciri fisik korban. Dari kondisi kerangka yang ditemukan, tim dapat mengetahui jenis kelamin, usia, dan kemungkinan penyebab kematian. “Kerangka yang ditemukan di Kwitang menunjukkan tanda-tanda terbakar, seperti kulit yang meleleh dan tulang yang retak. Ini membantu kami mengarahkan analisis lebih lanjut,” jelas Dr. Sumy. Hasil dari proses ini diharapkan bisa memberikan jawaban terhadap pertanyaan publik tentang nasib dua korban yang diduga hilang selama aksi demonstrasi.

Peran Tim Forensik dalam Menyelidiki Kebakaran di Kwitang

Tim forensik yang terlibat dalam penyelidikan ini berupaya memastikan bahwa semua korban yang ditemukan benar-benar terkait dengan kejadian di Kwitang. Selain DNA, mereka juga menggunakan teknik lain seperti analisis kremasi dan pemetaan lokasi ditemukannya jenazah. DVI (Disaster Victim Identification) menjadi sistem yang digunakan untuk menyelaraskan data antemortem dengan kondisi jenazah yang ditemukan.

Dalam pemeriksaan, Dr. Sumy menyebut bahwa kondisi tumpukan kayu di sekitar lokasi kebakaran memengaruhi proses identifikasi. “Api telah berhenti, dan jenazah mungkin sudah bercampur dengan material lain dari bangunan yang terbakar,” tambahnya. Kondisi ini memerlukan waktu dan ketelitian dalam memisahkan bagian-bagian tubuh korban agar bisa diidentifikasi secara akurat. Proses ini bisa memakan waktu hingga beberapa minggu, tergantung pada tingkat kerusakan yang dialami jenazah.

Sebagai penutup, kejadian penemuan kerangka dalam gedung terbakar di Kwitang menjadi contoh nyata bagaimana teknologi forensik digunakan untuk mengungkap identitas korban dalam situasi krisis. Dengan pendekatan sistematis dan menggunakan data yang terkumpul, Dr. Sumy Hastry Purwanti dan timnya berusaha memberikan kejelasan kepada keluarga serta masyarakat yang ingin mengetahui nasib dua korban hilang dalam aksi demonstrasi tersebut. Proses identifikasi ini tidak hanya menjadi bagian dari penyelidikan kebakaran, tetapi juga menggambarkan peran penting forensik dalam mengungkap kebenaran di tengah kericuhan.

Ikut berdiskusi