Bos BGN Sebut Program MBG Jadi Prioritas di Daerah dengan Angka Stunting Tinggi
Jakarta, VIVA – Sudaryono, yang menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), secara resmi mengemukakan bahwa pemerintah tengah merancang strategi untuk
Bos BGN Sebut Program MBG Jadi Prioritas Utama di Daerah Stunting Tinggi
Faktanaya.com – Jakarta, VIVA – Sudaryono, yang menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), secara resmi mengemukakan bahwa pemerintah tengah merancang strategi untuk memprioritaskan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai kawasan yang mencatatkan angka stunting tinggi. Dalam pernyataannya, Sudaryono menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian integral dari strategi nasional untuk mempercepat penanganan permasalahan gizi yang selama ini menjadi tantangan serius di Indonesia. Bos BGN Sebut Program MBG Jadi langkah strategis yang akan memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan generasi muda bangsa.
Menurut penjelasan Sudaryono, penentuan wilayah prioritas untuk program MBG tidak hanya berpatokan pada kawasan yang secara tradisional dikategorikan sebagai daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau yang dikenal dengan istilah 3T. Melainkan, pendekatan ini juga mencakup daerah-daerah lain yang memiliki prevalensi stunting secara signifikan. Data yang digunakan sebagai dasar penentuan ini berasal dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan saat ini sedang dalam proses sinkronisasi intensif oleh BGN untuk memastikan akurasi dan keandalan informasi.
Sebagaimana saya sampaikan kemarin terkait daerah 3T, kami menyisir berdasarkan data Kementerian Kesehatan. Sudah ada wilayahnya, provinsi mana, kabupaten mana, kecamatan mana, hingga desanya. Ini menunjukkan bahwa kami tidak hanya melihat dari tingkat provinsi, tetapi juga hingga level terkecil dalam administrasi wilayah.
Sudaryono menambahkan bahwa setelah proses sinkronisasi data selesai dilakukan, daerah prioritas akan segera menjadi fokus utama dalam implementasi program MBG. Hal ini khususnya ditujukan untuk wilayah-wilayah dengan tingkat stunting yang tinggi, di mana intervensi gizi dianggap paling mendesak. Program ini dirancang untuk memberikan bantuan gizi secara langsung kepada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan, termasuk anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau yang dikenal dengan istilah 3B.
Saat ini data tersebut sedang kami sinkronkan sehingga daerah yang menjadi prioritas dapat segera kami fokuskan, terutama wilayah yang memiliki angka stunting tinggi. Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan untuk program MBG benar-benar sampai kepada mereka yang paling membutuhkan.
Di luar Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang secara umum dikenal memiliki angka stunting tinggi, beberapa kabupaten di Sumatera serta Jawa juga tercatat memiliki angka stunting yang cukup signifikan. Hal ini menuntut adanya intervensi gizi yang lebih cepat dan tepat melalui program MBG. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah stunting bukan hanya terbatas pada wilayah-wilayah terpencil, tetapi juga meluas ke berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Enggak hanya di Papua, tapi juga di NTT, di beberapa wilayah yang lain termasuk ada beberapa temuan di beberapa kabupaten di Jawa ada yang memang angka stuntingnya cukup tinggi. Ini membuktikan bahwa program MBG harus bersifat komprehensif dan menjangkau berbagai lapisan wilayah.
BGN menargetkan agar program MBG mampu menjangkau wilayah yang paling membutuhkan secara optimal. Intervensi gizi diharapkan dapat diberikan secara tepat sasaran, khususnya bagi anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) di daerah dengan tingkat stunting tinggi. Program ini diharapkan dapat mengurangi angka stunting secara bertahap dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Implementasi Program MBG di Masa Depan
Dengan fokus pada daerah-daerah yang memiliki angka stunting tinggi, program MBG diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Sudaryono menyatakan bahwa BGN akan terus memantau perkembangan implementasi program ini dan melakukan evaluasi secara berkala. Melalui pendekatan yang terstruktur dan berbasis data, program MBG diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia.
(Ant)