Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Bisnis

BPS: Harga Pertamax dan Tarif Angkutan Udara Bikin Inflasi Juni Capai 0,44 Persen

Christopher Hernandez - faktanaya.com 3 mins baca

BPS: Inflasi Juni 2026 Capai 0,44 Persen BPS - Dalam laporan terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan adanya kenaikan inflasi bulanan di bulan Juni

BPS: Harga Pertamax dan Tarif Angkutan Udara Bikin Inflasi Juni Capai 0,44 Persen

BPS: Inflasi Juni 2026 Capai 0,44 Persen

BPS – Dalam laporan terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan adanya kenaikan inflasi bulanan di bulan Juni 2026 sebesar 0,44 persen, dengan indeks harga konsumen (IHK) meningkat dari 111,40 pada Mei menjadi 111,89. Kenaikan ini disampaikan oleh Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, dalam sebuah telekonferensi pers pada Rabu, 1 Juli 2026, yang memberikan gambaran lengkap mengenai dinamika perubahan harga di sektor ekonomi.

Faktor Utama Penyebab Inflasi Juni 2026

BPS menyoroti bahwa kenaikan harga bensin, terutama BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Dex Series, serta tarif angkutan udara menjadi faktor dominan yang memicu inflasi pada Juni. Kenaikan harga ini terjadi akibat dari berbagai dinamika pasar, termasuk kenaikan biaya produksi, permintaan yang tinggi, dan ketersediaan pasokan yang terbatas. Selain itu, kenaikan harga di sektor transportasi juga didorong oleh perubahan kebijakan regulasi dan lonjakan permintaan di tengah kondisi ekonomi yang stabil.

Menurut Ateng, kelompok pengeluaran transportasi mengalami peningkatan signifikan, mencapai 2,29 persen secara bulanan. Dari komponen ini, bensin menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan sebesar 0,21 persen, disusul oleh tarif angkutan udara (0,05 persen) dan pelumas mesin (0,01 persen). Dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau, inflasi mencapai 0,20 persen, dengan bawang merah, bawang putih, serta beras sebagai komoditas utama yang memengaruhi perubahan harga.

Dalam konteks inflasi tahun kalender, BPS mencatat kenaikan sebesar 1,79 persen year-to-date (ytd), sedangkan inflasi tahunan tercatat sebesar 3,34 persen year-on-year (yoy). Angka ini menunjukkan bahwa meskipun inflasi bulanan Juni 2026 relatif rendah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, tekanan inflasi secara keseluruhan masih terasa di berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat. BPS mengimbau pemerintah dan pelaku ekonomi untuk memantau secara rutin pergerakan harga barang dan jasa guna mengantisipasi dampak jangka panjang.

Dampak Inflasi pada Ekonomi dan Masyarakat

Penyebab utama inflasi bulanan Juni 2026 menurut BPS terkait dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, yang memengaruhi biaya operasional penggunaan kendaraan pribadi dan transportasi umum. Pertamax, yang merupakan salah satu jenis BBM yang digunakan sehari-hari, mengalami kenaikan harga yang mengakibatkan peningkatan biaya kebutuhan masyarakat. Sementara itu, tarif angkutan udara juga menjadi penekan inflasi, terutama untuk masyarakat yang membutuhkan transportasi jarak jauh.

Kenaikan inflasi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama di sektor konsumsi yang berkaitan dengan kebutuhan pokok. BPS menyebutkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang inflasi yang signifikan, dengan bawang merah dan bawang putih menjadi komoditas utama yang memberikan kontribusi terbesar. Peningkatan harga komoditas ini menunjukkan bahwa keadaan ekonomi masih terpengaruh oleh faktor-faktor global seperti harga komoditas internasional dan kondisi cuaca yang memengaruhi produksi pertanian.

Dalam analisis lebih lanjut, BPS menegaskan bahwa kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara tidak hanya terjadi secara mendadak, melainkan diakibatkan oleh perubahan kebijakan harga BBM yang telah direvisi sejak beberapa bulan sebelumnya. Kebijakan ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi subsidi dan mendorong mekanisme harga pasar. Meski demikian, BPS memperkirakan bahwa kenaikan inflasi bulanan ini akan berdampak lebih besar pada pengeluaran bulanan masyarakat kelas menengah yang lebih rentan terhadap perubahan harga.

Sebagai referensi, inflasi Juni 2026 yang tercatat sebesar 0,44 persen dianggap relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, BPS menyoroti bahwa tekanan inflasi dari sektor transportasi dan energi perlu diperhatikan lebih serius, karena kedua sektor ini menjadi bagian integral dari kebutuhan sehari-hari masyarakat. Dengan adanya kenaikan tersebut, BPS merekomendasikan beberapa langkah antisipatif, seperti pengawasan harga oleh pemerintah, serta penyesuaian kebijakan subsidi untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Dalam penjelasannya, Ateng Hartono menyebutkan bahwa BPS terus memantau secara mendetail dinamika harga di berbagai kelompok pengeluaran, termasuk sektor jasa, ritel, dan pertanian. Hal ini penting untuk memberikan gambaran yang akurat tentang kondisi perekonomian dan membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang tepat. Dengan memperhatikan faktor-faktor yang berpotensi menyebabkan inflasi, BPS berharap masyarakat dapat lebih siap menghadapi perubahan harga yang terjadi di masa depan.

Ikut berdiskusi