Special Plan: Tak Cuma Andalkan Devisa, BI: Perdagangan RI-China hingga US$9 Miliar Dilakukan via LCT
Special Plan: BI Memperluas Penggunaan LCT dalam Perdagangan RI-China Special Plan yang dicanangkan Bank Indonesia (BI) memperlihatkan upaya serius untuk
Special Plan: BI Memperluas Penggunaan LCT dalam Perdagangan RI-China
Special Plan yang dicanangkan Bank Indonesia (BI) memperlihatkan upaya serius untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (USD) dalam transaksi ekspor-impor dengan Tiongkok dan Jepang. Dalam menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, BI tidak hanya mengandalkan cadangan devisa (cadev) tetapi juga menerapkan skema baru, yaitu Transaksi Mata Uang Lokal (LCT), sebagai alat stabilisasi. Langkah ini bertujuan memperkuat kebijakan moneter dalam konteks perdagangan bilateral, terutama dengan dua mitra utama tersebut.
Kebijakan LCT dalam Special Plan untuk Stabilisasi Valas
Dalam forum ‘Investment Forum 2026’ di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, menjelaskan bahwa LCT menjadi bagian penting dari Special Plan. Ia menyatakan, “Dengan LCT, BI memberikan fasilitas transaksi langsung antara Yuan Tiongkok (CNY) atau Yen Jepang (JPY) dengan rupiah, sehingga investor dan pelaku perdagangan dapat menggunakan mata uang lokal secara lebih efisien.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Special Plan mencakup perluasan mekanisme LCT sebagai strategi untuk menangani volatilitas valuta asing.
Berdasarkan data terbaru, nilai perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok mencapai US$9 miliar per Mei 2026, dengan sebagian besar transaksi dilakukan melalui LCT. Destry menambahkan bahwa selain Tiongkok dan Jepang, kerja sama LCT juga telah diperluas ke sembilan negara lain, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, yang membantu mengurangi risiko fluktuasi USD dalam transaksi internasional.
Strategi Diversifikasi Mata Uang dalam Special Plan
Special Plan menggarisbawahi pentingnya diversifikasi mata uang dalam perdagangan luar negeri. Destry menjelaskan bahwa penggunaan LCT tidak hanya mengurangi risiko ketergantungan pada USD, tetapi juga meningkatkan efisiensi transaksi dan memperkuat keterlibatan ekonomi Indonesia dengan mitra utama di Asia Tenggara. “Dengan menyediakan kurs mata uang lokal, BI memastikan bahwa nilai perdagangan bisa dipertahankan secara stabil, terlepas dari tekanan pasar global,” ujarnya.
Menurut Destry, pertumbuhan LCT antara RI dan Tiongkok mencapai 30 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan keberhasilan Special Plan dalam mendorong adopsi mata uang domestik di sektor perdagangan. Selain itu, pemanfaatan LCT juga mengurangi biaya transaksi, karena tidak perlu lagi mengalihkan ke USD sebagai mata uang intermediasi.
Peran BI dalam Membangun Kerja Sama Regional
BI memandang LCT sebagai bagian dari upaya membangun kemitraan ekonomi regional yang lebih kuat. Dalam Special Plan, pihaknya bekerja sama dengan Bank Sentral Tiongkok untuk mengoptimalkan transaksi langsung antara Rupiah dan Yuan. “Kerja sama ini membantu mengurangi risiko terkait perubahan nilai tukar USD, yang sering kali menjadi faktor penghambat dalam perdagangan,” katanya.
Kolaborasi dengan Jepang pun terus diperkuat melalui skema LCT. Destry menyatakan, “Pemanfaatan Yen Jepang dalam transaksi perdagangan RI-Jepang meningkat pesat, sehingga memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra ekonomi strategis di kawasan Asia.” Dengan menerapkan LCT, BI berharap dapat menciptakan sistem transaksi yang lebih fleksibel dan terjangkau, mendukung pertumbuhan ekspor dan impor secara berkelanjutan.
Kebijakan LCT dan Dampak pada Ekonomi Nasional
Special Plan juga bertujuan memangkas permintaan terhadap dolar AS sebagai alat konversi valas. Dengan mengaktifkan transaksi langsung antar mata uang lokal, BI berupaya memastikan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan inflasi dan pergerakan mata uang global. Destry menambahkan bahwa kebijakan ini memiliki dampak jangka panjang, karena bisa mengurangi ketergantungan pada USD dan mengarahkan aliran devisa ke mata uang lokal.
Sebagai bagian dari Special Plan, BI juga sedang menyiapkan fasilitas LCT untuk bisnis kecil dan menengah (UKM) yang sebelumnya belum terlibat dalam transaksi mata uang asing. “UKM akan mendapat akses ke pasar internasional tanpa harus melalui dolar AS, sehingga memperkuat daya saing sektor ekspor,” ujarnya. Langkah ini diperkirakan akan meningkatkan volume perdagangan dengan negara-negara mitra, sekaligus mendorong perekonomian nasional menuju kemandirian keuangan.
Perspektif Internasional terhadap Special Plan
Analisis dari pihak ekspor dan importir menunjukkan bahwa Special Plan memberikan solusi praktis dalam menghadapi ketidakstabilan nilai tukar. Transaksi melalui LCT tidak hanya mempercepat proses perdagangan, tetapi juga mengurangi risiko perubahan kurs yang bisa berdampak signifikan pada margin keuntungan. Destry menyatakan, “Special Plan ini adalah langkah strategis yang memperkuat kebijakan moneter Indonesia dalam konteks global, karena memungkinkan pemanfaatan mata uang lokal secara luas.”
Kebijakan LCT dalam Special Plan juga diharapkan bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain di kawasan ASEAN. Destry menyebutkan bahwa BI sedang menyiapkan kerja sama lebih lanjut dengan negara-negara tetangga untuk mengadopsi skema serupa, sebagai langkah awal dalam mewujudkan ekonomi regional yang lebih terintegrasi. Dengan dukungan ini, transaksi perdagangan akan lebih efisien dan berkelanjutan, tanpa mengorbankan stabilitas moneter nasional.