Skip to content
Fresh Desk
Juni 19, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Bisnis

Tumbuh Signifikan – Bos BI Sebut LCT Rupiah-Renminbi Tembus US$13 Miliar Per Akhir April 2026

Lisa Moore 3 mins baca

LCT Rupiah-Renminbi Tumbuh Signifikan Capai US$13 Miliar di April 2026 Tumbuh Signifikan - Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, pertumbuhan

Tumbuh Signifikan – Bos BI Sebut LCT Rupiah-Renminbi Tembus US$13 Miliar Per Akhir April 2026

LCT Rupiah-Renminbi Tumbuh Signifikan Capai US$13 Miliar di April 2026

Tumbuh Signifikan – Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, pertumbuhan LCT (Local Currency Trade) rupiah-renminbi telah mencapai US$13 miliar per akhir April 2026, menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah kerja sama keuangan antara Indonesia dan Tiongkok. Angka ini mencerminkan peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya, seiring upaya pemerintah dan otoritas keuangan kedua negara untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan dan investasi bilateral. Pertumbuhan ini tidak hanya memperkuat alur perdagangan tetapi juga mendukung strategi diversifikasi mata uang internasional yang kini menjadi fokus utama keterlibatan ekonomi Indonesia di pasar global.

Kinerja LCT di Awal Tahun 2026

Dalam konferensi pers virtual yang diadakan pada 18 Juni 2026, Perry Warjiyo menyampaikan bahwa LCT rupiah-renminbi dalam empat bulan pertama tahun ini telah menunjukkan dinamika yang sangat positif. Jumlah transaksi mencapai 13 miliar dolar AS, yang merupakan angka hampir 100% lebih tinggi dibandingkan tahun 2025. “Jika tahun lalu LCT Indonesia-China sebesar 18 miliar dolar AS, maka di tahun ini hanya dalam empat bulan saja nilai transaksi mencapai 13 miliar dolar AS,” tutur Perry, menggambarkan kemajuan yang pesat.

Pertumbuhan tumbuh signifikan ini didorong oleh sejumlah faktor, termasuk peningkatan volume ekspor dan impor antara kedua negara, serta kebijakan keuangan yang lebih terbuka. Selain itu, tingkat kepercayaan bisnis terhadap mata uang lokal juga meningkat, terutama setelah BI dan Bank Sentral Tiongkok (PBOC) mengadopsi langkah-langkah konkret untuk mendorong penggunaan rupiah dan renminbi dalam transaksi internasional. Kebijakan ini dirancang untuk mengurangi risiko volatilitas dolar AS yang seringkali memengaruhi stabilitas nilai tukar.

Strategi Diversifikasi Transaksi

Perry Warjiyo menegaskan bahwa pertumbuhan tumbuh signifikan LCT rupiah-renminbi merupakan bukti keberhasilan strategi diversifikasi mata uang yang telah dijalankan. “Peningkatan penggunaan rupiah dan renminbi dalam transaksi akan selaras dengan strategi pemerintah Tiongkok untuk mendorong internasionalisasi renminbi,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih stabil dan inklusif, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam pasar global.

Seiring pertumbuhan tumbuh signifikan tersebut, BI juga menggencarkan kolaborasi dengan PBOC dalam berbagai inisiatif, seperti pengembangan instrumen keuangan baru dan harmonisasi kebijakan moneter. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang dalam mengurangi dominasi dolar AS sebagai mata uang utama dalam perdagangan internasional. Perry menyebutkan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi berkala terhadap dinamika transaksi LCT, termasuk menyesuaikan mekanisme pengelolaan dana yang lebih efisien.

Dalam konteks kebijakan ekonomi, pertumbuhan tumbuh signifikan LCT rupiah-renminbi juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter Indonesia. “Ini menunjukkan bahwa ada potensi besar untuk memperluas penggunaan rupiah dalam transaksi internasional, terutama di Asia Tenggara,” ujar Perry. Ia menyoroti bahwa BI telah menyiapkan beberapa langkah strategis, seperti menurunkan suku bunga dan meningkatkan akses pasar, untuk mendorong lebih banyak institusi keuangan menggunakan rupiah sebagai alat transaksi utama.

Pertumbuhan tumbuh signifikan ini juga berdampak pada kondisi pasar keuangan dalam negeri. Dengan semakin banyak transaksi menggunakan rupiah dan renminbi, BI berharap dapat mengurangi tekanan inflasi yang diakibatkan oleh dominasi dolar AS. “Keberhasilan LCT bukan hanya tentang volume transaksi, tetapi juga kualitasnya, termasuk efisiensi dan keamanan dalam sistem keuangan,” tambah Perry, menyoroti pentingnya transparansi dan kepercayaan dalam proses transaksi.

Kebijakan diversifikasi transaksi keuangan ini juga mendapat dukungan dari para eksporir dan investor di Indonesia. “Kami melihat peningkatan minat dari perusahaan-perusahaan besar untuk menggunakan rupiah dalam transaksi ke luar negeri,” kata Direktur Ekspor dan Impor Kementerian Perdagangan. Ia menambahkan bahwa pemerintah telah mendorong penguatan kerja sama bilateral melalui perjanjian perdagangan dan investasi yang lebih inklusif, serta mendorong keterlibatan sektor swasta dalam mengeksplorasi peluang baru dengan Tiongkok.

Ikut berdiskusi