Skip to content
Fresh Desk
Juni 19, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Dunia

Solving Problems: Starbucks Korea Tutup Seluruh Gerainya Pekan Depan, Imbas Promosi yang Picu Kemarahan Publik

Lisa Moore 3 mins baca

Solving Problems: Starbucks Korea Tutup Seluruh Gerainya, Upaya Penyelesaian Kontroversi Promosi Solving Problems - Starbucks Korea, salah satu rantai kafe

Solving Problems: Starbucks Korea Tutup Seluruh Gerainya Pekan Depan, Imbas Promosi yang Picu Kemarahan Publik

Solving Problems: Starbucks Korea Tutup Seluruh Gerainya, Upaya Penyelesaian Kontroversi Promosi

Solving Problems – Starbucks Korea, salah satu rantai kafe terbesar di Korea Selatan, memutuskan untuk menutup seluruh cabangnya sebanyak 2.000 unit pada Senin pekan depan sebagai langkah penyelesaian atas kontroversi promosi yang menimbulkan reaksi luas dari publik. Tindakan ini diambil untuk meningkatkan kesadaran karyawan tentang isu sosial dan memperbaiki reputasi perusahaan yang terpuruk akibat skandal yang dianggap memicu kemarahan.

Langkah Penutupan Gerai sebagai Solusi Strategis

Penutupan sementara gerai Starbucks Korea menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mengatasi krisis komunikasi. Tidak hanya itu, tindakan ini juga bertujuan untuk memberikan pelatihan sejarah modern dan kesadaran sosial kepada seluruh karyawan, agar mereka lebih sensitif terhadap konteks budaya dan politik. Menurut perwakilan Shinsegae Group, pengelola Starbucks, langkah penutupan ini adalah solusi untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Peristiwa yang Memicu Kontroversi

Kontroversi bermula dari kampanye promosi bernama “Tank Day” yang diluncurkan Starbucks Korea pada 18 Mei 2026. Promo ini menampilkan desain tumbler dengan angka “5/18” yang dikaitkan dengan peristiwa Gwangju Uprising, sebuah pemberontakan besar yang terjadi pada 18 Mei 1980. Tindakan militer saat itu mengakibatkan korban jiwa dan menjadi simbol penindasan terhadap gerakan pro-demokrasi. Penggunaan angka tersebut oleh Starbucks dianggap sebagai penghinaan terhadap sejarah nasional, sehingga memicu reaksi masyarakat yang marah.

“Dengan menutup seluruh gerai, kami ingin memberikan pelajaran kepada karyawan dan menjaga kepercayaan publik sebagai bagian dari upaya menyelesaikan masalah,” kata perwakilan Shinsegae Group. Langkah ini juga memberi kesempatan kepada perusahaan untuk memperbaiki kesalahan komunikasi dan menunjukkan komitmen dalam memecahkan konflik.

Respon Perusahaan dan Penyesalan dari CEO

Setelah munculnya protes, CEO Starbucks Korea, Son Jung-hyun, diberhentikan sebagai tindakan penyelesaian internal. Pihak perusahaan menyatakan bahwa kampanye tersebut tidak disengaja, tetapi terbukti mengganggu hubungan dengan masyarakat. Selain itu, seluruh staf diwajibkan mengikuti pelatihan sejarah modern dan kesadaran sosial, yang merupakan bagian dari upaya menyelesaikan masalah yang diakui oleh manajemen.

Langkah penutupan sementara juga menjadi contoh bagaimana perusahaan besar dapat menyikapi isu kontroversial dengan cepat. Dengan menutup gerai, Starbucks Korea menunjukkan komitmen untuk mengatasi masalah yang muncul dan menjaga integritas merek di tengah kegundahan publik. Namun, tindakan ini harus diiringi dengan perbaikan konsistensi dalam promosi di masa mendatang.

Implikasi Sejarah dan Dampak pada Masyarakat

Kontroversi ini mengingatkan kembali masyarakat Korea Selatan akan peristiwa Gwangju Uprising yang mengubah arah sejarah negara. Pemberontakan tersebut terjadi di tengah era pemerintahan militer, ketika tentara menguasai kota Gwangju dan menumpas gerakan pro-demokrasi. Angka “5/18” menjadi simbol kesedihan dan perlawanan rakyat terhadap kekuasaan militer. Dengan menggunakan angka tersebut, Starbucks Korea dianggap mengabaikan makna historis dan secara tidak sengaja mengulangi kesalahan.

Reaksi publik terhadap promosi ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran sejarah dalam komunikasi merek. Masyarakat Korea Selatan tidak hanya mengkritik desain tumbler, tetapi juga melihat ini sebagai tanda penjajahan dalam bentuk pemasaran. Dengan menutup seluruh gerai, Starbucks Korea menunjukkan bahwa perusahaan ini mampu mengambil solusi terhadap masalah yang dihadapinya, meskipun harus melalui langkah yang berdampak besar.

Pelajaran dari Skandal Promosi Starbucks

Kontroversi ini menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan internasional yang beroperasi di Korea Selatan. Kesalahan dalam menggunakan simbol sejarah menunjukkan betapa krusialnya riset budaya dan konteks sosial dalam kampanye pemasaran. Starbucks Korea menunjukkan bahwa menyelesaikan masalah tidak hanya tentang mengakui kesalahan, tetapi juga tentang tindakan konkret untuk memperbaiki hubungan dengan publik.

Selain itu, penutupan sementara gerai juga menguji ketahanan merek Starbucks di Asia Timur. Meski jangka pendek akan mengalami penurunan penjualan, langkah ini diharapkan bisa menyelesaikan konflik dan mengembalikan kepercayaan masyarakat. Pemerintah Korea Selatan pun berharap perusahaan asing seperti Starbucks bisa lebih memahami nilai-nilai sejarah dan budaya lokal dalam menghindari kesalahan serupa di masa depan.

Ikut berdiskusi