Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Gaya Hidup

WHO Ingatkan Pentingnya Mengontrol Asupan Garam Harian – Ini Kebiasaan yang Harus Dihindari

Elizabeth Thomas - faktanaya.com 3 mins baca

rian untuk Kesehatan WHO Ingatkan Pentingnya Mengontrol Asupan Garam - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali memberikan peringatan mengenai pentingnya

WHO Ingatkan Pentingnya Mengontrol Asupan Garam Harian – Ini Kebiasaan yang Harus Dihindari

WHO Ingatkan Pentingnya Kontrol Asupan Garam Harian untuk Kesehatan

WHO Ingatkan Pentingnya Mengontrol Asupan Garam – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali memberikan peringatan mengenai pentingnya mengontrol asupan garam dalam rutinitas harian. Dalam era makanan olahan dan garam tambahan yang semakin merajalela, banyak orang mengabaikan batas konsumsi natrium yang direkomendasikan. WHO menekankan bahwa mengurangi garam dalam makanan bisa menjadi langkah efektif mencegah penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung, dan stroke. Dengan mengotrol asupan garam, kita tidak hanya menjaga kesehatan jangka pendek, tetapi juga mengurangi risiko masalah kesehatan di masa depan.

Pengaruh Asupan Garam pada Kesehatan

Dalam pengumumannya, WHO menjelaskan bahwa konsumsi garam harian tidak boleh melebihi 5 gram—yang setara dengan satu sendok teh. Jumlah ini bisa terlampaui karena kebiasaan menambahkan garam saat memasak atau mengonsumsi makanan siap saji yang kaya natrium. Peningkatan asupan garam berisiko menyebabkan peningkatan tekanan darah, yang merupakan faktor utama penyakit kardiovaskular. Selain itu, garam berlebihan bisa memberatkan fungsi ginjal dan meningkatkan risiko penyakit lain seperti penyakit hati atau diabetes.

“Asupan garam yang berlebihan selama bertahun-tahun telah terbukti memicu masalah kesehatan yang serius,” jelas WHO dalam pernyataannya. “Kontrol konsumsi garam bukan hanya penting bagi kelompok tertentu, tetapi juga bagi masyarakat umum untuk menjaga keseimbangan gizi dan mencegah penyakit tidak menular.”

WHO menyoroti bahwa masyarakat sering menganggap garam sebagai bahan tambahan yang wajib ada dalam setiap hidangan. Namun, konsumsi berlebihan bisa terjadi tanpa kesadaran, terutama karena adanya garam dalam produk makanan olahan seperti biskuit, sosis, atau makanan ringan. Untuk itu, WHO menyarankan mengganti garam dengan bahan pengganti rasa lain, seperti kunyit atau bawang putih, serta memperhatikan label kemasan saat memilih makanan.

Langkah-Langkah Mengurangi Konsumsi Garam

Mengurangi asupan garam bisa dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, menghindari menambahkan garam secara ekscesif saat memasak. Jumlah garam yang diperlukan jauh lebih sedikit dari yang sering digunakan. Kedua, membatasi konsumsi makanan siap saji, yang biasanya mengandung garam tinggi. Ketiga, memilih makanan alami yang rendah natrium, seperti sayuran segar, buah, dan protein tanpa tambahan garam. Selain itu, WHO juga menyarankan untuk membiasakan diri memperhatikan jumlah garam yang terkandung dalam makanan, terutama dalam bahan baku seperti bumbu instan atau saus.

Dalam rangka membangun pola makan sehat, penting untuk mengontrol asupan garam secara konsisten. WHO merekomendasikan mengganti garam dengan bahan pemanis alami atau bumbu lain yang tidak mengandung natrium. Misalnya, menggunakan bahan seperti kunyit, jahe, atau lada bisa menjadi alternatif untuk menambah rasa tanpa mengurangi kebutuhan nutrisi. Selain itu, masyarakat juga dianjurkan memperhatikan jumlah garam yang dikonsumsi setiap hari, karena kebiasaan ini bisa memengaruhi tekanan darah dalam jangka panjang.

Kebiasaan Harus Dihindari untuk Kesehatan Jangka Panjang

Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah kebiasaan menambahkan garam tanpa memperhitungkan total asupan natrium dari sumber lain. Banyak orang merasa makanan kurang enak sehingga terus menambah rasa gurih, padahal ini justru meningkatkan konsumsi garam secara tidak sadar. WHO menegaskan bahwa kebiasaan ini bisa menyebabkan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit jantung, terutama jika dilakukan secara rutin.

Makanan olahan juga merupakan penyumbang utama asupan garam berlebihan. Produk seperti makanan kaleng, makanan cepat saji, dan camilan kemasan sering kali mengandung garam dalam jumlah besar. Dengan mengurangi penggunaan makanan olahan, kita bisa mengendalikan asupan natrium secara lebih efektif. Selain itu, memperhatikan label kemasan dan memilih produk dengan rendah garam atau tanpa garam bisa menjadi langkah nyata untuk mengoptimalkan kesehatan. WHO juga menyarankan mengatur porsi makanan secara bijak dan menghindari kebiasaan makan berlebihan, terutama pada makanan tinggi garam.

Ikut berdiskusi