Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Metro

Historic Moment: Heboh Korban KDRT Ngaku Diabaikan Polisi yang Lebih Pilih Nonton Bola Saat Buat Laporan, Begini Penjelasan Polres Jakbar

Betty Smith - faktanaya.com 3 mins baca

Historic Moment: Korban KDRT Ngaku Diabaikan Polisi Saat Buat Laporan, Begini Penjelasan Polres Jakbar Historic Moment - Dalam sebuah Historic Moment , sebuah

Historic Moment: Heboh Korban KDRT Ngaku Diabaikan Polisi yang Lebih Pilih Nonton Bola Saat Buat Laporan, Begini Penjelasan Polres Jakbar

Historic Moment: Korban KDRT Ngaku Diabaikan Polisi Saat Buat Laporan, Begini Penjelasan Polres Jakbar

Historic Moment – Dalam sebuah Historic Moment, sebuah video viral yang beredar di media sosial Threads @junist.hairdressing menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Video tersebut menunjukkan seorang anggota polisi dari Polsek Cengkareng, Jakarta Barat, terlihat menonton pertandingan sepak bola sambil menerima laporan dari korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Aksi ini memicu ketidakpuasan publik yang menganggap polisi lebih memilih menonton bola daripada menangani kasus KDRT secara serius.

Penjelasan dari Kapolres Jakbar

“Anggota yang terlihat dalam video tersebut bukanlah yang menangani laporan KDRT, melainkan anggota yang sedang bersiap untuk mengikuti apel razia stasioner di wilayah Cengkareng,” jelas Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Metro Jakarta Barat, Ajun Komisaris Polisi Wisnu Wirawan, dikutip Selasa, 30 Juni 2026.

Menurut Wisnu, anggota tersebut sedang menjalani tugas sebagai Pawas (Perwira Pengawas) dan menghadiri apel siaga yang dilakukan oleh Polsek Cengkareng. Ia menegaskan bahwa video tersebut hanya menciptakan kesan bahwa polisi mengabaikan laporan KDRT, padahal proses penanganan laporan telah berjalan sesuai protokol yang berlaku. “Korban KDRT sudah diberi kesempatan untuk membuat laporan, meski secara bersamaan ada laporan lain yang lebih mendesak,” tambahnya.

Proses Penerimaan Laporan yang Dianggap Lambat

Video viral tersebut memperlihatkan seorang perempuan yang belum diketahui identitasnya datang ke Polsek Cengkareng pada Minggu, 28 Juni 2026, sekitar pukul 23.50 WIB. Ia mengadukan dugaan KDRT yang dialaminya, tetapi sebelumnya telah ada laporan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang sedang diproses oleh pihak kepolisian. Menurut Wisnu, anggota SPKT di Polsek Cengkareng menghubungi piket Reskrim dan menginformasikan adanya dua laporan: satu tentang curanmor, satu lagi KDRT.

Proses penanganan laporan curanmor yang lebih awal tiba memerlukan waktu, sehingga korban KDRT diminta menunggu sejenak. Setelah itu, piket Reskrim datang ke SPKT atau lobi untuk melayani pelapor curanmor. Beberapa saat setelahnya, sirene apel siaga berbunyi, dan korban KDRT langsung meninggalkan lokasi tanpa mendapat pemberitahuan lebih lanjut. Wisnu menyebutkan bahwa perempuan tersebut tidak sempat membuat laporan karena merasa tidak sabar menunggu.

Peran Anggota Polisi dalam Penanganan KDRT

Kasus KDRT yang dilaporkan korban tersebut menjadi sorotan karena kemungkinan terjadi kesalahpahaman antara masyarakat dengan prosedur kerja polisi. Dalam Historic Moment ini, polisi di Jakarta Barat mengklaim bahwa anggota yang tertangkap kamera bukanlah yang menangani laporan KDRT. “Laporan KDRT segera diproses setelah anggota Reskrim tiba di SPKT, meski ada tugas lain yang lebih mendesak,” kata Wisnu.

Wisnu menjelaskan bahwa polisi sering kali menangani beberapa laporan sekaligus dalam satu waktu, terutama di area dengan kepadatan laporan tinggi. Ia berharap masyarakat dapat memahami bahwa tugas polisi tidak selalu bisa diberi prioritas berdasarkan urutan kedatangan pelapor. “Dalam situasi seperti ini, polisi tetap berupaya menyelesaikan setiap laporan dengan cepat dan efisien,” imbuhnya.

Reaksi Publik dan Impak Sosial

Kasus ini menimbulkan kecaman di media sosial dan menimbulkan pertanyaan tentang komitmen polisi dalam menangani KDRT. Banyak warganet menganggap bahwa polisi terlihat kurang serius, terutama karena aksi menonton bola saat menerima laporan dianggap sebagai tindakan yang tidak profesional. “Ini adalah Historic Moment yang menggambarkan ketidakpuasan masyarakat terhadap layanan kepolisian,” tulis seorang pengguna Threads.

Di sisi lain, Polres Jakbar menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak menandakan pengabaian terhadap korban KDRT. Mereka menjelaskan bahwa kejadian itu hanya sesaat dalam proses laporan yang lebih luas. “Kami terus berupaya mempercepat penanganan KDRT, meski ada laporan lain yang harus diproses bersamaan,” katanya. Pihak kepolisian juga berharap kejadian ini bisa menjadi pembelajaran dalam meningkatkan koordinasi internal dan transparansi dalam layanan publik.

Kebutuhan Perbaikan dan Prospek Masa Depan

Dalam upaya meningkatkan reputasi kepolisian, Polres Jakbar berkomitmen untuk melakukan evaluasi terhadap proses penerimaan laporan. Mereka menjanjikan perbaikan dalam sistem kerja agar masyarakat merasa dihargai dan kasus KDRT tidak terabaikan. “Kami akan memastikan setiap laporan kekerasan dalam rumah tangga mendapat perhatian yang tepat waktu,” tegas Wisnu.

Peristiwa ini juga memicu diskusi lebih luas tentang peran kepolisian dalam melindungi korban KDRT. Banyak yang berharap polisi bisa menangani laporan dengan lebih efektif, baik dalam proses internal maupun interaksi dengan masyarakat. Dengan Historic Moment ini, diharapkan menjadi bukti bahwa kepolisian Jakarta Barat tetap berupaya memberikan layanan terbaik, meski ada tantangan dalam menyeimbangkan prioritas tugas.

Ikut berdiskusi