Prabowo Dorong BRICS Perkuat Ketahanan Global dan Peran Global South
Faktanaya.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyoroti besarnya potensi BRICS untuk memperkuat ketahanan dunia melalui kerja sama yang lebih erat di bidang pangan, energi, pembiayaan pembangunan, teknologi, dan perdagangan. Pesan itu disampaikan saat ia menghadiri sesi terbatas Konferensi Tingkat Tinggi BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, Republik India, pada Sabtu, 12 September 2026.
Dalam sesi bertajuk “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism”, Prabowo menempatkan BRICS sebagai wadah penting bagi negara-negara dengan populasi, pasar, sumber daya, dan kapasitas ekonomi yang besar. Gabungan kekuatan tersebut, ia tekankan, dapat menjadi dasar bagi kontribusi yang lebih nyata terhadap stabilitas global.
“BRICS mewakili setengah dari seluruh umat manusia dan bagian yang besar dari perekonomian global serta perdagangan global. BRICS menyatukan pasar-pasar terbesar di dunia dan para produsen energi utama. Hal ini memberikan kita kekuatan kolektif yang sangat besar,” ujar Prabowo.
Kekuatan Bersama untuk Pangan dan Energi
Bagi Indonesia, pembahasan mengenai ketahanan pangan dan energi memiliki arti yang dekat dengan kepentingan pembangunan nasional. Ketersediaan pangan yang terjaga, energi yang andal, serta akses pembiayaan yang memadai merupakan unsur penting bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Di tingkat internasional, isu tersebut juga berhubungan langsung dengan daya tahan negara berkembang ketika menghadapi gejolak harga, gangguan pasokan, maupun ketidakpastian ekonomi.
Prabowo memandang kemampuan kolektif BRICS dapat diarahkan untuk membantu menjamin pasokan kebutuhan mendasar tersebut. Kerja sama yang didorong bukan hanya soal memperbesar perdagangan antarnegera anggota, melainkan juga membangun kapasitas bersama agar negara-negara berkembang memiliki ruang yang lebih kuat untuk menentukan masa depannya.
“Bayangkan apa yang dapat dicapai BRICS jika kekuatan ini sepenuhnya dimobilisasi untuk membantu menjamin pasokan pangan dan energi. Bayangkan jika pasar, modal, sumber daya, teknologi, dan pengetahuan kita terhubung dengan lebih baik, sehingga menciptakan peluang yang lebih besar bagi negara-negara berkembang,” imbuhnya.
Gagasan keterhubungan itu mencakup penguatan hubungan antara pasar, arus modal, sumber daya alam, teknologi, serta pertukaran pengetahuan. Dengan jaringan kerja sama yang lebih terbuka dan saling mendukung, negara-negara berkembang diharapkan memperoleh peluang lebih besar untuk meningkatkan produksi, memperluas pembangunan, dan memperkuat posisi mereka dalam perekonomian global.
Pembiayaan Pembangunan sebagai Prioritas
Presiden juga menekankan pentingnya mobilisasi sumber daya bagi pembangunan infrastruktur dan ekonomi. Infrastruktur menjadi salah satu fondasi bagi konektivitas, aktivitas perdagangan, distribusi pangan, penyediaan energi, dan pertumbuhan industri. Sementara itu, pembiayaan pembangunan menentukan kemampuan suatu negara untuk mengubah potensi ekonomi menjadi manfaat yang dirasakan masyarakat.
Dalam pandangan Prabowo, penguatan pembiayaan melalui kerja sama BRICS dapat membantu Global South membangun kapasitas pendanaan yang lebih mandiri. Hal tersebut penting agar agenda pembangunan negara berkembang tidak semata-mata bergantung pada situasi eksternal yang dapat berubah.
“BRICS memiliki peran untuk dimainkan dengan memperkuat kapasitas kita sendiri dalam berkontribusi terhadap ketahanan global. Dengan memobilisasi sumber daya untuk infrastruktur dan pembangunan, kita dapat memperkuat kapasitas Global South untuk membiayai masa depannya sendiri,” ujar Kepala Negara.
Penekanan pada kemampuan membiayai masa depan sendiri menunjukkan dorongan untuk membangun kerja sama ekonomi yang lebih berimbang. Negara-negara berkembang tidak hanya menjadi pasar atau pemasok bahan mentah, tetapi juga diharapkan semakin mampu mengembangkan infrastruktur, teknologi, dan kegiatan ekonomi bernilai tambah sesuai kebutuhan masing-masing.
Multilateralisme yang Lebih Inklusif
Selain agenda ekonomi, Prabowo menggarisbawahi perlunya sistem multilateral yang lebih kuat dan lebih inklusif. Sistem global, dalam pandangannya, harus mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh negara, tanpa membedakan ukuran wilayah, kekuatan ekonomi, atau pengaruh politiknya.
Pesan ini berkaitan dengan aspirasi agar suara negara berkembang memperoleh tempat yang lebih besar dalam pembentukan institusi dan aturan global. Tata kelola dunia yang inklusif diharapkan dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih adil, mendukung perdamaian, serta membuka kesempatan pembangunan yang lebih merata.
Bagi BRICS, besarnya populasi, cakupan pasar, dan peran anggota-anggotanya dalam produksi energi memberi modal untuk ikut membentuk arah kerja sama internasional. Namun, kekuatan tersebut baru akan memberi dampak luas apabila diterjemahkan menjadi kemitraan konkret, konektivitas yang lebih baik, serta kebijakan yang berorientasi pada kepentingan bersama.
Kehadiran Prabowo pada KTT BRICS 2026 menegaskan perhatian Indonesia pada penguatan kerja sama Selatan-Selatan dan pada upaya membangun ketahanan global yang tidak bertumpu pada satu pihak saja. Dalam forum itu, Indonesia membawa pandangan bahwa perdagangan, mata uang, sumber daya, dan pembangunan seharusnya menjadi sarana memperluas kesejahteraan, memperkuat stabilitas, dan menciptakan masa depan yang lebih adil bagi semua negara.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Prabowo di KTT BRICS?
Prabowo di KTT BRICS is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Prabowo di KTT BRICS matter?
Prabowo di KTT BRICS matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

