Fakta Mencengangkan Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Tewaskan 9 Orang – Polisi: Mortir Dipotong Pakai Gergaji
Fakta Mencengangkan Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Tewaskan 9 Orang, Polisi: Mortir Dipotong Pakai Gergaji Fakta Mencengangkan Ledakan Bom Sisa
Fakta Mencengangkan Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Tewaskan 9 Orang, Polisi: Mortir Dipotong Pakai Gergaji
Fakta Mencengangkan Ledakan Bom Sisa Perang – Misteri ledakan mortir yang mengenaskan di Biak, Papua, akhirnya terungkap setelah investigasi oleh pihak kepolisian. Sejumlah warga terluka dalam peristiwa tersebut, dan penyelidikan terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti.
Berdasarkan hasil investigasi, polisi menyimpulkan bahwa mortir meledak saat sedang dipotong oleh lima warga menggunakan gergaji besi. Pemotongan ini diduga menjadi pemicu ledakan yang mengakibatkan kecelakaan tersebut.
Pemeriksaan Ilmiah di Lokasi Ledakan
Tim Laboratorium Forensik Polda Papua melakukan analisis terhadap lokasi kejadian, serpihan logam, serta material yang ditemukan di sekitar titik ledakan. Temuan ini membantu memperjelas kronologi peristiwa.
“Berdasarkan hasil analisis ilmiah, ledakan dipicu oleh aktivitas pemotongan mortir menggunakan gergaji besi,” katanya, dikutip Jumat, 17 Juli 2026.
Analisis Kimia Memastikan Kandungan TNT
Pemeriksaan kimia juga menunjukkan bahwa mortir masih berisi Trinitrotoluene (TNT), bahan peledak kategori high explosive dengan daya ledak tinggi. Bahan ini diduga menjadi penyebab kerusakan yang signifikan.
“Gesekan antara mata gergaji dengan badan mortir menghasilkan panas yang mengenai fuse atau pemicu ledakan sehingga mengaktifkan booster dan akhirnya memicu detonasi terhadap muatan utama berupa TNT,” ujarnya.
Titik Ledakan Teridentifikasi
Dari hasil olah tempat kejadian, tim menemukan kawah ledakan dengan kedalaman sekitar 80 sentimeter dan diameter 3,6 meter. Titik awal ledakan terletak di bawah rumah milik seorang warga, menunjukkan intensitas kekuatan ledakannya.
Barang Bukti dan Saksi Diperiksa
Dalam proses penyelidikan, polisi mengumpulkan 111 barang bukti, termasuk 88 serpihan logam, mata gergaji, mesin gerinda, proyektil, botol berisi serbuk yang diduga sisa bahan peledak, dan pakaian korban.
“Hasil uji Laboratorium Forensik menunjukkan bahwa serpihan logam tersebut identik dengan mortir yang masih utuh dan seluruhnya berasal dari jenis yang sama,” ucap Gede.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Parasian Herman Gultom, menjelaskan bahwa penyidik telah meminta keterangan dari 25 saksi untuk merekonstruksi peristiwa tersebut secara lengkap.