Key Strategy: IAW: Tugas Pemerintahan Bukan Mewarisi Narasi Investasi yang Belum Matang
ng Eco-City yang Belum Matang Key Strategy - Strategi pemerintahan yang diusung oleh Indonesian Audit Watch (IAW) memicu pertanyaan mengenai keakuratan narasi
Key Strategy: IAW Kritik Narasi Investasi Rempang Eco-City yang Belum Matang
Key Strategy – Strategi pemerintahan yang diusung oleh Indonesian Audit Watch (IAW) memicu pertanyaan mengenai keakuratan narasi investasi terkait proyek Rempang Eco-City. Proyek yang sempat menjadi pusat perhatian selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, ternyata tidak memiliki dasar kontrak atau kesepakatan formal dari Xinyi Glass Holdings Limited, perusahaan asal Hong Kong. Hal ini diungkapkan dalam pernyataan resmi yang diterbitkan pada 3 Februari 2025, menunjukkan bahwa narasi investasi besar-besaran tersebut sebenarnya dibangun sebelum perjanjian secara resmi ditandatangani.
Penjelasan Xinyi Glass dan Tanggapan IAW
Xinyi Glass Holdings Limited memastikan bahwa mereka tidak pernah menjadi penginisiatif atau pelaku utama proyek Rempang Eco-City. Dalam pernyataan terbarunya, perusahaan ini menyebut bahwa kesepakatan awal terkait investasi hanya bersifat sementara dan belum melahirkan dokumen hukum yang mengikat. Hal ini menimbulkan kejutan bagi publik yang selama ini percaya bahwa proyek tersebut merupakan bagian dari strategi nasional yang terencana.
“Pembangunan narasi investasi terhadap Rempang Eco-City dianggap tidak lengkap karena belum didukung oleh kontrak resmi. Ini mengisyaratkan bahwa strategi pemerintahan dalam menarik investasi masih memerlukan revisi dan pengecekan ulang,” kata Iskandar Sitorus, Sekretaris Pendiri IAW, dalam keterangan yang diterima, Minggu, 19 Juli 2026.
Iskandar menyoroti bahwa keberadaan proyek ini berpotensi menciptakan kesalahpahaman terkait prioritas pengembangan daerah. Ia menegaskan bahwa untuk menjaga kepercayaan publik, narasi yang disampaikan pemerintah harus selaras dengan dokumen hukum yang terbentuk secara jelas. Jika tidak, proyek strategis nasional ini bisa menjadi contoh dari kelemahan strategi pemerintahan dalam mengelola pengembangan ekonomi.
Proses Pemerintahan dan Dampak Narasi
Menurut laporan ESG 2025 yang dirilis Xinyi Glass pada April 2026, perusahaan ini menyatakan bahwa proyek Batam Eco-City bukanlah inisiatif mereka. Mereka mengungkapkan keputusan untuk tidak melanjutkan investasi setelah melihat dampak sosial dan lingkungan yang signifikan. Iskandar menambahkan bahwa keputusan ini menunjukkan transparansi Xinyi, sementara pemerintahan sebelumnya justru tetap memacu proyek meski penolakan masyarakat terus meningkat.
“Key Strategy dalam menyusun narasi investasi harus mencakup pertimbangan lingkungan dan kepentingan masyarakat secara utuh. Ketika narasi disampaikan sebelum kontrak resmi, risiko kesalahan informasi menjadi lebih tinggi,” lanjut Iskandar dalam analisisnya.
Iskandar Sitorus menilai, pernyataan Xinyi Glass menjadi pengingat bahwa strategi pemerintahan dalam menghadirkan proyek strategis nasional harus lebih berhati-hati. Narasi investasi yang terlalu cepat dibangun bisa menyebabkan konflik kepentingan dan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap keberlanjutan proyek tersebut. Ia menekankan bahwa pemerintah perlu melakukan evaluasi mendalam sebelum menetapkan strategi yang berdampak besar pada ekosistem lokal dan nasional.
Dengan adanya kejelasan dari Xinyi Glass, strategi pemerintahan dalam membangun narasi investasi dianggap perlu dilengkapi dengan aspek transparansi dan akuntabilitas. Iskandar meminta agar proyek-proyek serupa ke depannya tidak hanya bergantung pada kisah sukses sementara, tetapi juga mengintegrasikan pertimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan secara menyeluruh. Hal ini diharapkan bisa menghindari pengulangan kesalahan dan memperkuat kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah.