Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026 FaktaNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
Dunia

AS Kaji Rencana Agresi Besar-besaran ke Iran Demi Rebut Uranium yang Diperkaya

Daniel Taylor - faktanaya.com 2 mins baca

AS Kaji Rencana Agresi Besar besaran terhadap Iran sebagai strategi utama untuk menguasai cadangan uranium yang telah diperkaya. Pemerintah Amerika Serikat

AS Kaji Rencana Agresi Besar-besaran ke Iran Demi Rebut Uranium yang Diperkaya

AS Kaji Rencana Agresi Besar ke Iran untuk Uranium

Faktanaya.com – AS Kaji Rencana Agresi Besar besaran terhadap Iran sebagai strategi utama untuk menguasai cadangan uranium yang telah diperkaya. Pemerintah Amerika Serikat sedang mempertimbangkan opsi militer skala besar yang melibatkan ribuan pasukan darat dan udara. Langkah ini bertujuan mengamankan stok material nuklir dari kompleks fasilitas Teheran sebelum perundingan diplomatik mencapai jalan buntu.

Laporan tersebut pertama kali diungkap oleh seorang pejabat militer tingkat tinggi yang berbicara secara eksklusif kepada media The New York Post. Harian konservatif Amerika ini menerbitkan berita pada hari Sabtu, 25 Juli 2026. Informasi ini kemudian dikonfirmasi oleh sumber resmi pada Minggu, 26 Juli 2026.

“Saya tidak suka mengatakannya, namun menurut saya langkah paling efektif untuk menyingkirkan material nuklir Iran, setidaknya dari apa yang mereka miliki saat ini, adalah melalui tindakan militer. Hal ini mengingat perundingan saat ini mengalami kebuntuan,” ujar sumber tersebut.

Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih Photo : White House

Operasi Militer Terintegrasi

Jika tawaran ini disetujui oleh Pentagon, ribuan pasukan darat akan menyerbu lokasi fasilitas nuklir secara serentak. Mereka bertugas menetralkan berbagai jebakan, menempatkan tim teknis, serta membangun barikade pertahanan di sekeliling area sasaran. Operasi ini memerlukan koordinasi ketat antara angkatan darat, laut, dan udara.

Setelah fase penaklukan awal, unit pasukan khusus akan masuk untuk mengambil uranium secara langsung. Fase penarikan material ini diprediksi menjadi momen paling berisiko dalam keseluruhan serangan. Pasukan khusus dilengkapi dengan peralatan pelindung radiasi dan sistem komunikasi canggih untuk memastikan keamanan selama operasi.

Ketika rencana ini terealisasi, tentara AS ditugaskan membersihkan reruntuhan pintu masuk yang mereka hancurkan. Mereka juga harus mempertahankan posisi dari serangan balik pasukan Iran yang diperkirakan akan merespons dengan agresif. Pertahanan udara menjadi prioritas utama untuk melindungi pasukan dari ancaman rudal.

Konteks Konflik dan Persiapan Iran

Sebelumnya, pada Kamis, 23 Juli 2026, perwakilan militer Iran menyatakan bahwa angkatan bersenjatanya telah berlatih menghadapi berbagai skenario serangan AS. Mereka juga mempersiapkan diri untuk kemungkinan invasi darat dengan memperkuat posisi di sekitar fasilitas nuklir strategis.

Pada 18 Juni 2026, kedua negara telah menandatangani memorandum perdamaian. Dokumen ini bertujuan menghentikan konflik yang bermula sejak 28 Februari 2026. Namun, pasukan AS kembali menyerang Iran mulai 8 Juli 2026 setelah meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menjelaskan bahwa serangan tersebut merupakan tanggapan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melewati Selat Hormuz. Situasi ini menciptakan tekanan tambahan bagi Washington untuk mengambil langkah tegas.

Sebagai balasan, pasukan Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Menanggapi situasi ini, Presiden Trump mengumumkan bahwa perjanjian gencatan senjata antara kedua negara tidak lagi berlaku. (Ant).

Ikut berdiskusi